Saturday, May 4, 2013

Anarkisme Mahasiswa Makassar


Beberapa tahun terakhir, sejak 2010 hingga saat ini, Makassar menjadi perhatian banyak orang. Khusus menyoal demonstrasi mahasiswa. Terutama mengenai demontrasi mahasiswa yang berujung bentrok dengan aparat kepolisian dan pengrusakan pada fasilitas umum. Bahkan, demonstrasi mahasiswa telah menjadi salah satu ‘ikon’ Kota Makassar.

Aksi mahasiswa Makassar memang berbeda dengan aksi mahasiswa di daerah lain di tanah air. Karena seringnya berakhir bentrok, demonstrasi mahasiswa makassar kadang dipuji dan kadang pula di hujat oleh berbagai pihak. Diantaranya pemerintah, akademisi, dan masyarakat umum.
Mahasiswa sebagai kelompok terpelajar pun menuai tanya. Berbagai spekulasi bermunculan. Mulai dari disusupi oleh kepentingan tertentu, adanya provokator, hingga suburnya ideologi Anarkisme di Makassar.

Sejak maraknya demonstrasi mahasiswa yang berujung bentrok. Sistem pendidikan di beberapa kampus di makassar juga menjadi pertanyaan. Kritik terhadap system pengkaderan di lembaga kemahasiswaan juga menuai Tanya. Demonstrasi yang berakhir dengan tindakan brutal, merusak, membakar, menghancurkan tanpa tujuan yang jelas (missal: amuk massa) dipandang sebagai aksi anarkisme.

Anarkisme
Pierre Joseph Proudhon, adalah orang pertama yang menggunakan istilah anarkisme sebagai filsafat politik. Dalam tradisinya,  anarkisme memiliki dua tendensi yang dominan, yakni anarkisme individual dan anarkisme kolektif. Keduanya sama-sama menolak keberadaan subjek yang terpisah dari dunia objektif. Singkatnya, keduanya menolak kekuasaan sentral (negara) yang memaksakan kepatuhan buta terhadap warganya.

Sementara itu, menurut Emma Goldman dalam tulisannya yang berjudul Anarchism And Other Essays mengatakan anarkisme adalah “kekuatan yang menggerakkan manusia, yang terus-menerus menciptakan keadaan-keadaan baru, berjuang dalam keadaan apapun untuk menolak segala sesuatu yang menghambat perkembangan peradaban. Secara umum anarkisme dapat diartikan sebagai gerakan perlawanan yang memiliki banyak bentuk dan karaktetristik/varian.

Gerakan anarkisme tumbuh subur di beberapa negara bagian di eropa. Salah satu alasan gerakan anarkisme lahir adalah sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap kehidupan sosial yang mapan dan dipaksakan.

Seiring perkembangan zaman, sejak orde baru hingga orde paling baru yakni reformasi, berbagai varian demonstrasi bermunculan di tanah air. Mulai dari aksi damai hingga aksi yang bertujuan menciptakan kerusuhan. Sejarah mencatat, kerusuhan dalam demonstrasi bukanlah hal yang baru. Demonstrasi menuntut diturunkan Sukarno dan Soeharto sebagai presiden juga banyak diwarnai bentrokan dengan aparat kepolisian dan TNI.

Demonstrasi dalam Semiotika
Demonstrasi yang berujung pada pengrusakan fasilitas umum, pembakaran ban, penutupan jalan, pelemparan terhadap institusi pemerintah, mencoret beberapa fasilitas umum, bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa dasar. Menurut Rolan Bartes dalam ilmu tentang tanda/semiologi, setiap tanda memiliki aspek penanda dan petanda. Dimana keduanya saling berhubungan. Petanda adalah aspek material/empirik sedangkan penanda adalah aspek konsepsi atau ekspresi dari petanda.

Meminjam analisis semiotika Bartes melihat tanda dari anarkisme mahasiswa Makassar merupakan pendekatan untuk melihat tanda-tanda berbicara. Demonstrasi adalah aspek material/ empirik. Inilah yang disebut petanda. Amuk mahasiswa berupa pengrusakan fasilitas umum, pembakaran ban, dan pemblokiran  jalan merupakan ekspresi dari kemarahan dan kekecewaan. Inilah yang disebut penanda.  Ekspresi kemarahan, kekecewaan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Akan tetapi ada sesuatu yang membuatnya terekspresikan (penanda).

Dalam demonstrasi mahasiswa, Jika aspek petanda yang ditonjolkan, maka wajar konsepsi negatif tentang mahasiswa yang akan terbangun di pikiran publik. Tapi, jika aspek penanda yang ditekankan, seperti pengrusakan, maka penelurusan terhadap pokok persoalan menjadi hal utama. Hal inilah yang jarang menjadi perhatian banyak orang. Wajar jika masyarakat umum tak simpati lagi dengan mahasiswa sebagai kaum terdidik.

Mahasiswa Makassar memang identik dengan kekerasan ketika melakukan demonstrasi. Hari-hari nasional, seperti hari buruh, hari pendidikan nasional, dan hari-hari nasional lainnya sering dipilih mahasiswa menjadi momentum demonstrasi. Hari pendidikan nasional adalah moment yang dijadikan mahasiswa memprotes kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Tak sedikit aksi mahasiswa di momentum itu berakhir bentrok. Seperti yang terjadi di kantor Gubernur Sulawesi Selatan pada 2 Mei 2013.

Tak sedikit kerugian yang ditimbulkan oleh aksi mahasiswa yang berujung pada bentrok. Diantaranya menimbulkan kemacetan, pengrusakan fasilitas umum, dan jatuhnya korban dari kedua belah pihak. Efek inilah yang seringkali menjadi perbincangan publik.

Kesadaran kritis
Demonstrasi mahasiswa Makassar tidak lepas dari kondisi aktivitas mahasiswa di dalam kampus. Diantaranya Unhas, UNM, UMI, Unismuh, dan Universitas 45, serta beberapa kampus lainnya. Iklim kampus yang didominasi diskusi kelompok dan berbagai kegiatan pengkaderan membuat suburnya kesadaran kritis mahasiswa.

Kampus sebagai miniatur negara merupakan tempat lahirnya bibit muda penerus generasi bangsa. Khususnya generasi intelektual. Berbagai aliran pemikiran dunia bergelut menjadi bahan perbincangan dari fakultas ke fakultas melalui ruang diskusi. Hal inilah yang menjadikan kampus menjadi ladang subur tumbuh berbagai gerakan sosial di tanah air. Tanpa menafikan gerakan masyarakat seperti gerakan buruh dan gerakan tani sebagai basis gerakan massa lainnya di nusantara.

Anarkisme mahasiswa Makassar merupakan salah satu wujud gerakan sosial yang mendapati jalan buntu. kritik bagi pemerintah terkadang tak digubris. Sehingga langkah-langkah kekerasan menjadi pilihan bagi demonstran. Tujuannya tak lain  agar aspirasinya didengar dan dilaksanakan oleh pemerintah. Selain itu, juga menjadi bagian terpenting dalam penguatan masyarakat sipil. Tanpa menafikan gerakan sosial yang lebih elegan dan persuasif.

Anarkisme mahasiswa makassar merupakan produk atas gelagat pemimpin yang tak mau mendengar dan ingin dilayani. Demonstrasi yang berujung bentrok sebaiknya menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Khususnya dalam arti penanda. Anarkisme mahasiswa bisa jadi merupakan salah satu model peringatan bagi pemerintah (eksekutif dan legislatif) yang bebal dengan kritikan dan tak mau belajar mendengar. wallahualam

1 comment: