Monday, May 20, 2013

Pemuda dan Kebangkitan Nasional


Berikan aku sepuluh pemuda, akan kupindahkan gunung Himalaya ke laut Pasifik….,” (Soekarno)

Melalui ucapannya, Presiden pertama Republik Indonesia ini paham betul peran dan semangat yang dimiliki kaum muda Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajah, Belanda. Pemuda dipandangnya sebagai kelompok penggerak kekuatan rakyat.

Pemuda dan Indonesia dalam pergolakan bangsa ibarat dua sisi mata uang. Ingatan sejarah tak lupa akan perubahan-perubahan besar di tanah air tidak lepas dari keterlibatan pemuda secara pemikiran maupun pengorganisiran di lapangan dalam memerangi ketidakadilan yang mendera rakyat Indonesia.

Pemuda yang dimaksud adalah generasi yang tak terbatasi usia, tapi dalam arti sekelompok kaum muda yang memiliki semangat mengubah keadaan yang timpang. Sebutlah Soekarno, Hatta, Soedirman, Tan Malaka, Tirto Adisuryo, Sutomo, Wahidin Sudirohusodo dan puluhan pemuda yang tak sempat tercatat oleh sejarah Indonesia, memiliki kontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia, 1945.

Di balik kepahlawanan Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan, peristiwa Rengasdengklok menegaskan keberanian Sukarni Kartodiwirjo, Wikana dan sekelompok pemuda lainnya menculik Soekarno dan memaksa untuk menyatakan kemerdekaan.

Di belakang panggung besar kemerdekaan, Tan Malaka juga merupakan tokoh utama yang menghiasi gejolak perlawanan kaum buruh dan kaum tani menentang kerja paksa di tanah air. Tan Malaka Bergerak dari desa-ke desa membawa pesan perlawanan dan menyuarakan kemerdekaan 100 persen.

Bahkan, Soekarno belajar dari Tan Malaka mengenai kekuatan rakyat sebagai modal kemerdekaan melalui bukunya yang berjudul Aksi Massa. Walaupun akhirnya, Bapak penggagas Republik Indonesia ini terbunuh di ujung selonsong tentara dari negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya.

Pasca kemerdekaan, pemuda masih mendominasi peran dalam mengutuhkan dan menjaga kemerdekaan pasca Indonesia mendapatkan pengakuan secara internasional sebagai Negara yang berdaulat dan merdeka. Salah satunya adalah Soedirman. Di usia 29 tahun, Soedirman terpilih sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Berjuang dengan satu paru-paru, Ia dan pasukannya keluar-masuk kota dan hutan memimpin gerilya.

Perintah serangan umum di Yogyakarta yang digagasnya bersama Sultan Hamengku Buwono IX membuka mata dunia: Republik Indonesia masih tegak berdiri. Perang Ambarawa membuktikan, mantan guru Muhammdiyah ini  setelah seminggu dipilih, bukan diangkat, menjadi Panglima Besar TKR, Ia menghalau serdadu Belanda dan sekutu-tentara profesional  dengan persenjataan lengkap.

Bahkan ketika Soekarno-Hatta ditawan setelah penyerangan Belanda ke Yogyakarta, Desember 1948, Soedirman memilih menyingkir untuk meneruskan perang gerilya. Perjuangan Soedirman diusianya yang masih sangat muda memimpin TKR menjadi simbol perjuangan pemuda melalui senjata.

Setelah Soekarno dilenserkan oleh Soeharto, gayung bersambut, pemuda kembali berdiri di barisan terdepan sebagai pembawa. Penolakan terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden yang dimotori Arif Budiman dan kelompok mahasiswa adalah buktinya.

Di bawah kepemimpinan Soeharto, perjuangan pemuda dan mahasiswa banyak mengisahkan ‘luka’. Hingga puncaknya pada Mei 1998, memaksa mundur presiden yang berkuasa selama 32 tahun ini. Berbagai organisasi pemuda, mulai dari organisasi mahasiswa kampus dan nonkampus gencar melakukan propoganda dan pengorganisiran rakyat dalam menentang rezim otoriter orde baru.

Pemuda itu adalah Budiman Sujatmiko, Arif Budiman, Nezar Patria, Linda Kristanti, wiji Thukul dan puluhan pemuda yang tak terdeteksi namanya, terus meneriakkan protes terhadap pemerintahan Soeharto yang tidak pro terhadap rakyat.  Walaupun Soeharto menggunakan tangan militer dengan sangat kejam kepada para aktivis pemuda dengan melakukan penangkapan, penculikan dan penyiksaan, kelompok ini terus melakukan perlawanan tersembunyi melalui kantong-kantong perlawanan buruh, mahasiswa dan masyarakat.

Tak terkecuali aktivis yang dihilangkan, Wiji Thukul memilih propaganda anti-orde baru melalui jalan seni yang ia pilih. Pamplet, dan puisi dipilihnya untuk menyulut kemarahan rakyat. Tidak hanya melalui puisi, Thukul mengorganisir kelompok buruh dan seniman untuk terus berlawan menolak hasil pemilu yang kembali memutuskan Soeharto sebagai presiden. Berbagai upaya perlawanan terus dilakukan hingga pada akhirnya Soeharto dengan terpaksa meletakkan kekuasaanya pada Mei 1998 di depan seluruh rakyat Indonesia.

Turunnya Soeharto pada Mei 1998 mengingatkan kita pada momentum bersejarah pada bulan yang sama yakni kebangkitan nasional pada 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Oetomo sebagai organisasi modern pertama di Indonesia. Diprakarsai oleh Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yakni Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, serta digagas oleh Wahidin Sudirohusodo. Momentum ini ditandai sebagai masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Benang merah uraian sejarah gerakan pemuda dan Indonesia dapat menjadi bahan ajar bagi generasi muda saat ini. Peran generasi muda merupakan pondasi dasar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, sejahtera dan manusiawi.

Tidak terkecuali di tahun 2013 yang gelombang demokratisasi terus menggelora seiring banyaknya masyarakat yang mengahiri hidupnya karena kekurangan makanan. Puluhan rakyat Indonesia tergusur di tanah sendiri, dan buruh yang bekerja tanpa jaminan kesehatan dan kesejahteraan. Dan, juga ribuan, bahkan jutaan pemuda tak mampu mengakses pendidikan karena biaya yang melangit.

Kita tentunya paham, pemuda di zaman sebelum kemerdekaan mengenali jelas musuhnya yakni bangsa lain yang menjajah Indonesia. Tapi pasca kemerdekaan, musuh generasi muda semakin nyata, yakni pemimpin di rumah sendiri yang mengangkangi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Olehnya itu, perjuangan terberat generasi muda saat ini adalah perang mengenali musuh dari bangsa sendiri. Pemimpin yang lebih menghormati tamu dibandingkan pemilik negeri ini yakni rakyat. Pemimpin yang membuat kita kembali terjajah di rumah sendiri dan terhina sebagai pekerja di mata dunia. Jika generasi muda terus menghamba pada ketidaktahuan dan tak menjadi bagian dari pengubah keadaan, maka jangan heran generasi muda nantinya hanya menjadi budak di rumah sendiri.

No comments:

Post a Comment