“Berikan aku sepuluh pemuda, akan kupindahkan
gunung Himalaya ke laut Pasifik….,” (Soekarno)
Melalui
ucapannya, Presiden pertama Republik Indonesia ini paham betul peran dan
semangat yang dimiliki kaum muda Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari
penjajah, Belanda. Pemuda dipandangnya sebagai kelompok penggerak kekuatan
rakyat.
Pemuda dan
Indonesia dalam pergolakan bangsa ibarat dua sisi mata uang. Ingatan sejarah
tak lupa akan perubahan-perubahan besar di tanah air tidak lepas dari keterlibatan
pemuda secara pemikiran maupun pengorganisiran di lapangan dalam memerangi
ketidakadilan yang mendera rakyat Indonesia.
Pemuda yang
dimaksud adalah generasi yang tak terbatasi usia, tapi dalam arti sekelompok
kaum muda yang memiliki semangat mengubah keadaan yang timpang. Sebutlah Soekarno,
Hatta, Soedirman, Tan Malaka, Tirto Adisuryo, Sutomo, Wahidin Sudirohusodo dan puluhan
pemuda yang tak sempat tercatat oleh sejarah Indonesia, memiliki kontribusi
besar terhadap kemerdekaan Indonesia, 1945.
Di balik
kepahlawanan Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan, peristiwa Rengasdengklok menegaskan
keberanian Sukarni Kartodiwirjo, Wikana dan sekelompok pemuda lainnya menculik
Soekarno dan memaksa untuk menyatakan kemerdekaan.
Di belakang
panggung besar kemerdekaan, Tan Malaka juga merupakan tokoh utama yang
menghiasi gejolak perlawanan kaum buruh dan kaum tani menentang kerja paksa di
tanah air. Tan Malaka Bergerak dari desa-ke desa membawa pesan perlawanan dan
menyuarakan kemerdekaan 100 persen.
Bahkan, Soekarno
belajar dari Tan Malaka mengenai kekuatan rakyat sebagai modal kemerdekaan
melalui bukunya yang berjudul Aksi Massa. Walaupun akhirnya, Bapak penggagas
Republik Indonesia ini terbunuh di ujung selonsong tentara dari negara yang ia
perjuangkan kemerdekaannya.
Pasca
kemerdekaan, pemuda masih mendominasi peran dalam mengutuhkan dan menjaga
kemerdekaan pasca Indonesia mendapatkan pengakuan secara internasional sebagai
Negara yang berdaulat dan merdeka. Salah satunya adalah Soedirman. Di usia 29 tahun,
Soedirman terpilih sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Berjuang
dengan satu paru-paru, Ia dan pasukannya keluar-masuk kota dan hutan memimpin
gerilya.
Perintah
serangan umum di Yogyakarta yang digagasnya bersama Sultan Hamengku Buwono IX
membuka mata dunia: Republik Indonesia masih tegak berdiri. Perang Ambarawa
membuktikan, mantan guru Muhammdiyah ini setelah seminggu dipilih, bukan diangkat, menjadi
Panglima Besar TKR, Ia menghalau serdadu Belanda dan sekutu-tentara profesional dengan persenjataan lengkap.
Bahkan
ketika Soekarno-Hatta ditawan setelah penyerangan Belanda ke Yogyakarta, Desember
1948, Soedirman memilih menyingkir untuk meneruskan perang gerilya. Perjuangan
Soedirman diusianya yang masih sangat muda memimpin TKR menjadi simbol
perjuangan pemuda melalui senjata.
Setelah
Soekarno dilenserkan oleh Soeharto, gayung bersambut, pemuda kembali berdiri di
barisan terdepan sebagai pembawa. Penolakan terhadap pencalonan kembali
Soeharto sebagai presiden yang dimotori Arif Budiman dan kelompok mahasiswa
adalah buktinya.
Di bawah
kepemimpinan Soeharto, perjuangan pemuda dan mahasiswa banyak mengisahkan
‘luka’. Hingga puncaknya pada Mei 1998, memaksa mundur presiden yang berkuasa
selama 32 tahun ini. Berbagai organisasi pemuda, mulai dari organisasi
mahasiswa kampus dan nonkampus gencar melakukan propoganda dan pengorganisiran
rakyat dalam menentang rezim otoriter orde baru.
Pemuda itu
adalah Budiman Sujatmiko, Arif Budiman, Nezar Patria, Linda Kristanti, wiji
Thukul dan puluhan pemuda yang tak terdeteksi namanya, terus meneriakkan protes
terhadap pemerintahan Soeharto yang tidak pro terhadap rakyat. Walaupun Soeharto menggunakan tangan militer
dengan sangat kejam kepada para aktivis pemuda dengan melakukan penangkapan,
penculikan dan penyiksaan, kelompok ini terus melakukan perlawanan tersembunyi
melalui kantong-kantong perlawanan buruh, mahasiswa dan masyarakat.
Tak
terkecuali aktivis yang dihilangkan, Wiji Thukul memilih propaganda anti-orde baru
melalui jalan seni yang ia pilih. Pamplet, dan puisi dipilihnya untuk menyulut
kemarahan rakyat. Tidak hanya melalui puisi, Thukul mengorganisir kelompok
buruh dan seniman untuk terus berlawan menolak hasil pemilu yang kembali
memutuskan Soeharto sebagai presiden. Berbagai upaya perlawanan terus dilakukan
hingga pada akhirnya Soeharto dengan terpaksa meletakkan kekuasaanya pada Mei
1998 di depan seluruh rakyat Indonesia.
Turunnya
Soeharto pada Mei 1998 mengingatkan kita pada momentum bersejarah pada bulan
yang sama yakni kebangkitan nasional pada 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Oetomo
sebagai organisasi modern pertama di Indonesia. Diprakarsai oleh Sutomo dan
para mahasiswa STOVIA yakni Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, serta digagas
oleh Wahidin Sudirohusodo. Momentum ini ditandai sebagai masa dimana bangkitnya
rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk
memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.
Benang merah
uraian sejarah gerakan pemuda dan Indonesia dapat menjadi bahan ajar bagi
generasi muda saat ini. Peran generasi muda merupakan pondasi dasar dalam membangun
kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, sejahtera dan manusiawi.
Tidak
terkecuali di tahun 2013 yang gelombang demokratisasi terus menggelora seiring
banyaknya masyarakat yang mengahiri hidupnya karena kekurangan makanan. Puluhan
rakyat Indonesia tergusur di tanah sendiri, dan buruh yang bekerja tanpa
jaminan kesehatan dan kesejahteraan. Dan, juga ribuan, bahkan jutaan pemuda tak
mampu mengakses pendidikan karena biaya yang melangit.
Kita
tentunya paham, pemuda di zaman sebelum kemerdekaan mengenali jelas musuhnya
yakni bangsa lain yang menjajah Indonesia. Tapi pasca kemerdekaan, musuh generasi
muda semakin nyata, yakni pemimpin di rumah sendiri yang mengangkangi kekuasaan
untuk kepentingan pribadi.
Olehnya itu, perjuangan terberat generasi muda
saat ini adalah perang mengenali musuh dari bangsa sendiri. Pemimpin yang lebih
menghormati tamu dibandingkan pemilik negeri ini yakni rakyat. Pemimpin yang membuat
kita kembali terjajah di rumah sendiri dan terhina sebagai pekerja di mata
dunia. Jika generasi muda terus menghamba pada ketidaktahuan dan tak menjadi
bagian dari pengubah keadaan, maka jangan heran generasi muda nantinya hanya
menjadi budak di rumah sendiri.
No comments:
Post a Comment