Konsultan politik dan lembaga survey kini menjadi lembaga yang
terus di cari oleh para pemburu kuasa di ajang pemilihan kepala daerah. Tidak
terkecuali bagi para calon legislatif yang akan bertarung di pemilihan legislatif
2014 nanti. Kedua lembaga ini dipercaya mampu mengantarkan kandidat menuju
kursi kekuasaaan karena prediksinya yang terukur dan tidak beda jauh dengan
hasil pemilihan langsung.
Tidak terkecuali di Pemilihan Wali (Pilwali) Kota Makassar saat
ini. Di balik pertarungan antar-kandidat juga merupakan ruang adu ilmu bagi
para konsultan politik. Konsultan politik bersembunyi di panggung belakang
kandidat dalam mendesain strategi kemenangan. Tugas di belakang layar inilah
yang kemudian banyak melahirkan konsultan politik dan lembaga survey di tanah
air. Jangan heran jika menjelang Pilkada, lembaga survey dan konsultan politik
banyak bermunculan.
Kontestasi politik tanah air yang membutuhkan biaya tinggi (high cost) membuat profesi sebagai konsultan
menjadi trend bisnis yang prospek. Selain memberikan keuntungan material yang
tinggi, juga dapat memberi akses yang luas jika berhasil memenangkan kandidat.
Magnet inilah yang menarik perhatian banyak profesi untuk beralih menjadi
konsultan politik.
Konsultan politik
Ruh konsutan politik dan lembaga survey adalah penelitian. Olehnya
itu, mereka para intelektual dari perguruan tinggi banyak mendominasi panggung belakang
politik tanah air melalui konsultan politik dan lembaga survey. Meskipun tak
sedikit juga yang hanya bermodal pengalaman dan integritas pernah melakukan
survey, dengan mudah membentuk lembaga survey.
Beberapa akademisi yang membentuk konsultan politik diantaranya Denny
JA, di Lingkaran Survey Indonesia (LSI), Eep Saefulloh Fatah di PolMark
Indonesia, Hanta Yuda di Pol-Tracking Institut, dan Saiful Mujani di Lembaga Survey
Indonesia (LSI). Sejak LSI memenangkan Pilkada di beberapa daerah, konsutan
politik laku di pasaran dalam mengukur potensi kemenangan kandidat sebelum
pemilihan berlangsung. Dengan metode penelitian ilmiah yang mampu
dipertanggungjawabkan secara akademis.
Denny JA telah membuktikan lembaga survey dan konsultan politik
mampu eksis dan bisa menguntungkan secara bisnis di Indonesia sejak 2005.
Terbukti di beberapa Pilkada di tanah air, sebagian besar kandidat menggunakan
konsultan politik. Biaya yang disiapkan kandidat untuk konsultan politik juga
tak tanggung-tanggung nilainya bahkan mencapai puluhan miliar.
Olehnya itu, fenomena lembaga survey di Pilkada bukanlah sesuatu
yang luar biasa. Konsultan politik dan Pilkada ibarat semut dan gula. Dimana
ada pilkada disitu ada konsultan politik dan lembaga survey.
Selain menhimpun orang-rang ahli, seperti pembuat opini publik,
kolumnis, peneliti, dan akademisi, konsultan politik juga memberdayakan banyak
generasi muda perguruan tinggi sebagai tenaga teknis di lapangan/ surveyor.
Walaupun tak bisa dimungkiri, selain profesi peneliti dan
akademisi, banyak juga lembaga survey dan konsultan politik yang dipimpin oleh praktisi
politik, pengusaha, bahkan preman. Dengan bermodal materi dan jejaring ke
jantung kekuasaan. Motifnya beranekaragam. Mulai dari mencari materi hingga
mendapatkan akses ke penguasa.
Hampir setiap hari Pilkada berlangsung di beberapa daerah di tanah
air. Oehnya itu konsultan politik tetap menjadi profesi yang dibutuhkan.
Hadirnya beberapa lembaga survey justru memberikan dampak positif
bagi dunia penelitian ilmiah di tanah air. Tapi perlu diingat, lembaga survey ibarat
pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan bisa
juga dijadikan alat untuk memburu kuasa. Tidak sedikit lembaga survey yang
memanipulasi hasil survey atas kepentingan kuasa dan pesanan kandidat (klien).
Hal inilah yang mesti menjadi peringatan keras bagi mereka yang menyatakan diri
sebagai peneliti yang bekerja di lembaga survey. Peneliti bisa saja salah
hingga seribu kali, tapi bohong dalam penelitian tidak boleh.
Panggung belakang
Hampir semua kandidat yang bertarung di Pilwali Makassar memiliki
konsultan politik. Pertarungan kandidat adalah pertarungan konsultan politik
yang ada di belakang layar. Ada yang menggunakan konsultan politik yang telah
memiliki integritas memenangkan kandidat di beberapa daerah, dan ada juga yang
menggunakan konsultan berdasarkan jaringan keluarga maupun organisasi.
Sejak kandidat Wali Kota Makassar mencuat di permukaan, bermuncullah
konsultan politik dan lembaga survey lokal di Makassar. Jumlahnya tak
tanggung-tanggung hingga puluhan. Ada yang mengklaim telah memenangkan beberapa
kandidat di beberapa daerah, dan adapula yang bermodalkan popularitas melalui
media massa. Tujuannya tak lain untuk merebut hati kandidat sehingga dipercaya
sebagai konsultan pemenangan.
Memenangkan Pilwali makassar sangat bergantung dari integritas
konsultan politik dan lembaga survey yang digunakan kandidat. Pilwali Makassar
sebenarnya adalah pertarungan antara konsultan politik di masing-masing
kandidat. Adu strategi, ilmu, hingga manuver politik di lapangan dan media
massa tak jarang kita temui. Selain mendapatkan keuntungan materi, integritas
konsultan politik dipertaruhkan.
Olehnya itu, memilih konsultan politik bukanlah perkara mudah bagi
kandidat. Kandidat mestinya mempertimbangkan integritas konsultan, track record, dan aktor yang mendiami konsultan
tersebut. Sehingga kandidat tak membeli kucing dalam karung. Dalam arti lain mencari
pawang ular untuk menjinakkan gajah.
Tak sedikit kandidat di beberapa Pilkada keliru memilih konsultan
politik. selain faktor kedekatan, pro aktif dari konsultan politik juga menjadi
faktor penentu. Mengingat biaya
konsultan sangatlah tinggi. Akibatnya, kandidat tak mampu membedakan antara
konsultan politik dan tim suskes. Padahal, konsultan politik bukanlah tim
sukses. Begitupun sebaliknya. Faktanya, inilah yang terjadi di beberapa kandidat
Pilwali Makassar.
Oleh karena itu, mengharapkan Pilwali Makassar
yang jujur, beretika, bebas, dan rahasia berarti menaruh harapan pada konsultan
politik. Tidak terkecuali menaruh harapan tentang masa depan Makassar di tengah
banyaknya persoalan kota yang menunggu diselesaikan segera oleh kandidat
terpilih nantinya. Kita tidak menginginkan konsultan politik yang menghalalkan
segala cara untuk memenangkan kandidat. Apalagi, menjadi ‘pemerintahan bayangan’
setelah memenangkan kandidat.
No comments:
Post a Comment