Melihat
proses pemilihan Walikota Makassar saat ini, mengingatkan kita pada roman Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta
Toer, Tahun 1950. Partai politik yang dulunya sepi, kini ramai dikunjungi tamu.
Ormas yang dulunya tak menarik, kini memikat perhatian, dan organisasi pemuda
yang dulunya sepi aktivitas, kini kebanjiran kegiatan. Momentum Pilwali Makassar
membuat orang-orang berduyun-duyun datang dan berduyun-duyun pergi. Seperti
pasar malam.
Ibarat pasar
malam, kini kandidat sibuk menyebar baligho dan spanduk untuk mendatangkan
sebanyak-banyaknya pengunjung. Berbagai media sosialisasi telah disebar di
tempat-tempat strategis kota Makassar. Berharap bisa dikenal pemilih sebagai
calon pemimpin.
Proses
politik kini menjelma menjadi pasar. Konstituen berubah menjadi pembeli, dan
kandidat berkelakar sebagai penjual. Pesta demokrasi menjadi ruang
tawar-menawar dalam proses jual-beli. Perbedaan antara calon pemimpin dan
pedagang tak lagi bisa dibedakan. Memilih pemimpin ibarat membeli barang.
Politik transaksional
Partai yang
dulunya sepi, kini ramai dikunjungi orang-orang. Kader partai, tim sukses, dan
kandidat lalu-lalang berkunjung ke kantor partai. Partai menjadi buah bibir dimana-mana.
Apakah mendukung calon A atau calon B. Sudah menjadi rahasia umum jika kandidat
ingin menjadikan partai sebagai kendaraan untuk bertarung di Pilkada, kandidat
mesti mengeluarkan mahar hingga miliaran rupiah. Apalagi partai yang populer
dan memiliki banyak kursi di DPR.
Partai
sebagai lembaga politik yang memiliki ideologi dan sebagai tempat mengabdi
kepada masyarakat kini jauh dari cita-cita luhur kepartaian. Partai tidak lagi
melihat kapasitas, integritas, visi, dan ketulusan mengabdi, tapi lebih
mengutamakan berapa mahar yang akan dibayar kandidat. Wajar saja jika menjelang
Pilkada dan pemilihan legislatif, partai menjadi buruan para pemburu kuasa. Momen
inilah yang kemudian dimanfaatkan pemimpin-pemimpin partai pemburu rente.
Partai
politik menjelma menjadi supermarket, dan gerai-gerai yang siap menjajakan jasa
dengan berbagai tarif. Rekruitmen kader untuk kepentingan rakyat menjadi slogan
semata. Ideologi dan substansi kepartaian menjadi nomor dua, setelah mahar.
Tidak hanya
partai, organisasi masyarakat (ormas) pun kini kebanjiran tamu. Mulai dari tim
sukses hingga kandidat yang bertamu langsung menemui sesepuh ormas. Berharap
mendapatkan dukungan. Tak sedikit pemimpin organisasi masyarakat yang
memanfaatkan Pilwali kota Makassar untuk kepentingan pribadi atas nama puluhan,
bahkan ribuan orang yang dipimpin. Tawar-menawar pun berlangsung dengan
komitmen seluruh anggota organisasi akan memberikan dukungan kepada kandidat
dalam bentuk suara.
Organisasi
kepemudaan juga tak mau ketinggalan memanfaatkan momentum Pilwali Makassar. Dulunya,
miskin aktivitas, kini sibuk menggelar kegiatan dengan simbol-simbol kandidat.
Organisasi kepemudaan kini membangun afiliasi politik dengan kandidat tertentu.
Tujuan organisasi sebagai lembaga kader menjadi nomor dua. Yang utama adalah
kandidat mana yang banyak memberikan kontribusi besar dalam bentuk materi.
Pragmatisme dan
oportunisme menyelimuti organisasi kepemudaan. Berharap menjadi pelanjut generasi
bangsa hanya bualan. Sekretariat pindah di warung-warung kopi dan kafe-kafe. Organisasi
kepemudaan menjelma menjadi organisasi penjual massa.
Lorong-lorong,
pemukiman warga, dan ruang publik disulap menjadi pasar. Berbagai transaksi
jual-beli berlangsung. Menjadi tempat menebar janji kandidat dan menjadi pasar
gelap jual-beli pemilih melalui calo’.
Kini Makassar menjelma menjadi pasar malam. Berbagai transaksi jual beli digelar
tanpa mengenal konteks.
Bukan pasar malam
Politik
memang bukan pasar malam, tapi politik saat ini mencerminkan sebuah pasar,
dimana ada pembeli dan penjual. Keramaian politik ibarat pasar malam yang
berisi pasar suara.
Sistem
politik berubah menjadi politik transaksional, bukan politik berdasarkan hukum.
Politik kemudian melahirkan berhala uang. Siapa yang memiliki banyak uang,
dapat mengakses kekuasaan tanpa batas. Suara-suara rakyat hanya dinilai sebagai
angka-angka saja. Suara rakyat tidak lagi menjadi sesuatu yang hidup yang mesti
dipenuhi dan disejahterakan, tapi menjelma menjadi rupiah.
Sistem
politik yang mejadikan uang sebagai berhala berimbas pada kinerja pemimpin
terpilih. Kandidat terpilih nantinya akan lebih sibuk mengembalikan biaya yang
dikeluarkan saat kampanye. Hal inilah yang kemudian melahirkan pemimpin korup.
Pemimpin terpilih juga lebih sibuk mengurusi bagaimana mengembalikan uang pinjaman
yang dipinjam saat kampanye.
Pemimpin
terpilih juga akan sibuk mengurusi para pengusaha yang menjadi pendonor saat kampanye.
Berbagai proyek di pemerintahan menjadi korban proses politik. Tender kemudian
dimonopoli. Tender yang terbuka dengan pertimbangan kualitas perusahaan, hanya
menjadi akal-akalan saja.
Politik
menjadi panglima. Memimpin segala sendi kehidupan. Mulai dari ekonomi, sosial,
budaya bahkan masuk ke ranah pendidikan.
Setelah Pilwali
Makassar berlangsung, keramaian dan kegaduhan politik perlahan dilupakan. Kandidat,
tim sukses, pemilih, partai politik juga perlahan-lahan tak lagi membicarakan
urusan politik. Seakan-akan semuanya pulang berduyun-duyun setelah pasar malam
telah selesai dengan berbagai hiburannya. Kandidat telah mendapatkan
keuntungan, dan pembeli telah mendapatkan kepuasan.
Pilwali Makassar
memang bukan pasar malam, tapi berbagai kesamaan dapat kita temui, diantaranya
Jika pasar malam diramaikan dengan berbagai tawaran hiburan, Pilwali menawarkan
berbagai janji dan harapan. Jika pasar malam diramaikan dengan banyaknya
pengunjung, Pilwali diramaikan dengan banyaknya kandidat yang siap memenuhi
kebutuhan para pemilih.
Kita tidak
berharap Pilwali Makassar seperti pasar malam. Ketika acara selesai, pemilih berduyun-duyun
pulang, dan kandidat berduyun-berduyun pergi meninggalkan konstituen. Janji saat
kampanye hanya menjadi kenangan.
No comments:
Post a Comment