| Kontestan Pilwali Makassar 2013 |
Perhelatan pemilihan walikota dan wakil walikota
(Pilwali) Makassar yang menghitung hari memaksa sepuluh pasangan kandidat mesti
bekerja ekstra untuk memenangkan Pilkada
yang digelar 5 tahun sekali ini. Bukan hanya kontestan saja yang sibuk, mulai
dari tim sukses, konsultan, dan pemilih juga saling serang untuk merebut
simpati electoral kepada kandidat yang didukung.
Berbagai spekulasi muncul di detik-detik terakhir
menjelang hari pencoblosan. Mulai dari saling serang antarkandidat di media
massa, selebaran black campaign, dan
kasus-kasus ‘lama’ yang mendera kandidat, menjadi pembicaraan hangat di
warung-warung kopi. Saling serang antar kandidat tidak lain sebagai upaya
kandidat tertentu untuk menggerusi suara calon yang telah menempati posisi
teratas berdasarkan beberapa hasil survey lembaga survey.
Berdasarkan hasil survey Indonesia Development
Engineering Consultant (IDEC), pasangan yang telah menempati ‘panggung depan’
Pilwali makassar yakni pasangan
Danny-Ical (DIA) 21,1%, Supomo-Kadir (SuKa) 20,4 %, Irman-Busrah (NOAH) 11,7%, dan
Tamsil-Dasad 10,9%. Sementara itu, untuk swing
voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan masih berada diangka
25,3%.
Berdasarkan hasil Tracking Survey IDEC ini maka
bisa dipastikan Pilwali Makassar akan berlangsung 2 putaran. Karena tak satupun
kandidat yang mampu menembus elektabilitas di atas 30%.
Black Campaign
Diunggulkannya pasangan DIA oleh beberapa lembaga
survey di posisi papan atas, ‘memaksa’ kandidat lainnya berpikir untuk menggerus
suara kandidat yang didukung penuh oleh struktur pemerintahan di Makassar ini.
Mengingat swing voters tinggal 25,3%.
Selebaran black
campaign, saling serang di media cetak adalah upaya yang dilakukan oleh
kandidat tertentu untuk menurunkan elektabilitas pasangan tertentu. Pengaruh black campaign tidak menguntungkan
pasangan Supomo-Kadir (SuKa). Elektabiltas pasangan usungan partai Golkar ini
terus turun dari bulan juni (27,4 %)
hingga jelang pemilihan di bulan September 20,4%.
Sementara pasangan DIA yang juga diserang black campign dengan isu naturalisasi
atau bukan putra daerah tak cukup berpengaruh terhadap elektabilitas pasangan
yang diusung oleh partai Demokrat ini. justru pasangan ini mengalami tren kenaikan
elektabilitas yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Di bulan Juni
DIA berada pada posisi ke-dua dengan elektabiltas 10,2% meningkat menjadi 21,
1% menempati urutan pertama di bulan September.
Sementara itu, pasangan NOAAH yang juga diterpa black campaign dengan isu ‘dinasti
politik’ dan isu korupsi mobil Toko (Moko) di Pemprov Sulsel, juga tak
berpengaruh banyak terhadap tren kenaikan elektabilitas calon yang merupakan adik
kandung Syahrul Yasin Limpo ini. Di bulan
Juni elektabilitas NOAH berada pada posisi enam (4,9 %) meningkat tajam menjadi
11,7% di posisi ketiga pada bulan September.
Kandidat lainnya yang juga memiliki trend kenaikan
elektabiltas yang tak bisa dipandang remeh adalah pasangan Tamsil-Das’ad.
Berbagai serangan black campaign
mulai dari isu keterlibatan Tamsil dengan jaringan terorisme, korupsi, dan sampai
menyerang pribadi tokoh Sulsel yang telah menasional ini tak berpengaruh sama
sekali dengan elektabilitas pasangan ini.
Di bulan Juni, pasangan dengan tagline ‘Makassar
Berdaya’ ini yang lebih popular dengan programnya 10 juta per KK (Kepala
Keluarga) berada pada posisi ke-tujuh dari 10 pasangan kandidat dengan
elektabilitas 1,5%. Di bulan September bergerak naik menempati urutan ke-empat
dengan elektabilitas 10,9%.
Siapa
Kuda Troya?
Black
campaign yang selama ini ramai
menghiasi media cetak lokal beberapa minggu terakhir dan selebaran yang
bertebaran entah menuju ke pasang mata siapa? membuat beberapa kandidat,
terutama sebagai korban menghitung efek negatif yang ditimbulkan. Apakah black campign merugikan kandidat, atau
justru menguntungkan kandidat? jawabannya tergantung tim pemenangan yang
mengelola serangan tersebut. Tapi satu hal yang pasti, black campaign secara etika mencederai demokrasi lokal di Makassar.
Dari empat pasangan (DIA, NOAH, SuKa,
Tamsil-das’ad) yang diberondong black
campaign secara massif, hanya pasangan SuKa yang mendapat efek penurunan
elektabilitas yang cukup dapat dipertimbangkan. Supomo diisukan sering
sakit-sakitan dan Kadir Halid isukan sebagai representase dari kakak kandungnya
Nurdin Halid, membuat pasangan ini kehilangan 7% elektabilitas dari bulan
Juni-September.
Di bulan Juni elektabiltas pasangan SuKa 27.4%
turun menjadi 20.4% pada September. Terlalu cepat mengambil kesimpulan jika
menilai kejadian ini disebabkan oleh black
campaign, karena faktor pecahnya partai Golkar dengan majunya NOAH adalah
juga menjadi faktor penentu turunnya elektabilitas pasangan ini.
Kandidat yang memiliki elektabilitas yang
peningkatannya cukup signifikan adalah DIA, NOAH, dan Tamsil Das’ad. Ketiganya menjadi
trend topik di media massa, dan ruang-ruang publik lainnya.
Pasangan NOAH bisa saja menjadi pasangan yang akan
lolos di putaran kedua dengan dasar trend kenaikan elektabilitas yang diraih
dalam beberapa bulan terakhir. Dukungan dari tim pemenangannya yang telah memiliki
pengalaman memenangkan beberapa Pilkada di Sulsel bisa menjadi kekuatan
tersendiri bagi kandidat ini.
Selain itu, Kakak kandung Irman Yasin limpo, yang
menjabat sebagai Gubernur Sulsel dan ketua DPD I Partai Golkar Sulsel juga
menjadi faktor penentu jelang saat-saat terakhir pemilihan.
Pasangan Tamsil Das’ad juga menjadi kandidat yang
masuk dalam kalkulasi politik sebagai kontestan yang harus diperhitungkan.
Melalui program ‘Makassar Berdaya’ 10 juta per KK, Tamsil-Das’ad telah
‘menghipnotis’ pemilih Makassar yang pragmatis. Selain dukungan program yang
memikat perhatian elektoral, Tamsil-Das’ad adalah kandidat yang diusung oleh
Partai Keadilan Sejahtera yang memiliki basis massa ideologis dan cukup
diperhitungkan di Makassar.
Sementara itu, kandidat papan atas, DIA merupakan
pasangan yang lebih banyak diuntungkan karena dukungan struktur pemerintahan
melalui Ilham Arief Sirajuddin sebagai Walikota Makassar dan Ketua Partai
Dekomrat Sulsel yang telah menanamkan pengaruh selama 10 tahun terakhir di Makassar.
Pertanyaannya kemudian adalah, siapakah kontestan
Pilwali Makassar diantara empat kandidat ini yang akan menjadi ‘Kuda Troya’ di
Pilwali Makassar yang mampu memanfaatkan strategi untuk memenangkan peperangan
menuju putaran kedua? jawabannya, kita lihat hasilnya pada 18 September nanti.
No comments:
Post a Comment