Balasan Tulisan Ostaf al Mustafa "SURAT TERTUTUP UNTUK
MAHASISWA MAKASSAR"
Oleh: Asri Abdullah (Mantan Anggota UKPM
Unhas)
Sebagai sesama mantan anggota UKM Pers Unhas (UKPMers) wajib
bagi penulis membalas "surat tertutup" yang dikirim bang Ostaf kepada
penulis. Baca: kolom opini (perspektif) Tribun
Timur, Jumat (28/11).
Ostas al Mustafa atau biasa kami sapa Bang Ostaf adalah
'kawan' yang selalu mengingatkan kami (UKPMers) tentang
"Anti-heroisme" yang beliau tulis dalam Vademekumenulis CaKa (Catatan Kaki) Unit
Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas sebagai alas ideologi UKPM Unhas.
Bahwa, mahasiswa (demonstran) bukanlah hero!. Jalanan
bukanlah tempat mencari nama dan panggung popularitas. Selain jalanan, goresan
pena (menulis) juga menjadi alat untuk menyampaikan kebenaran yang terus
disembunyikan oleh penguasa!.
Bagi kami di Pers mahasiswa, menulis adalah bagian dari
gerakan mahasiswa. Penguasa mungkin bisa memenjarakan ‘tubuh’ seorang
demonstran, tapi kata-kata demonstran tak bisa dipenjarakan!. Olehnya itu, menulis
melalui Jurnalistikritis ala’ Vademekum Caka (Catatan Kaki, Buletin terbitan
UKPM Unhas) adalah salah satu perjuangan UKPMers selain di jalanan.
Mengingat, media mainstream/industri
media tak banyak memahami pesan gerakan mahasiswa Makassar. Mereka terlalu
terikat dengan berbagai aturan jurnalistik yang ‘kaku’. ‘Nilai berita’ dijadikan
ruh dalam menulis berita untuk menarik perhatian pembaca. Alasan inilah mengapa
Pers Mahasiswa tumbuh subur di kampus-kampus.
Pers Mahasiswa, dalam Vademekum Caka karya Ostaf al Mustafa,
mengingatkan reportase Pers mahasiswa harus
realistis, meskipun harus menggunakan kalimat-kalimat imajiner dalam
jurnalistik kesusastraan (jurnalistik sastra) atau bahkan bila harus
menggunakan ‘jurnalisme seribu mata’ (jurnalisme yang menggabungkan filsafat,
sastra, dan realitas).
Anti-heroisme
“Seperti koboi, setelah menghabisi semua bajingan. Ia akan
pergi begitu saja tanpa menyebutkan namanya”, begitulah kutipan Ostaf al
Mustafa pada ‘Surat Tertutup untuk Mahasiswa Makassar’ saat dialog ‘luka dari
Kampus’ di Hotel Quality Makassar, Jumat (06/12/2013) lalu. Sejumlah ‘petinggi’
mahasiswa dari berbagai kampus hadir dalam acara tersebut. Termasuk penulis dan
bang Ostaf.
| Bentrokan di depan kampus UMI antara mahasiswa dibantu warga vs aparat kepolisian, Makassar, Malam (27/11) malam. FOTO: Maman Sukirman, SINDO |
Saat dialog, penulis mengingatkan sosok mahasiswa yang tak
perlu menceritakan apa yang pernah dilakukannya di jalanan bersama masyarakat
yang dibela. Kata ini keluar saat seorang mahasiswa mengaku telah berkali-kali
berjuang di jalanan membela rakyat miskin dan mengaku telah ditikam ‘preman
bayaran’ saat melakukan demonstrasi di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan.
Anti-Heroisme telah ditulis rapi dan ditegaskan oleh Ostaf
al Mustafa dalam Vademekum UKPM Unhas. Berikut penggalan tulisannya, “…Apapun yang diperbuat Mahasiswa, bukanlah
suatu upaya untuk mendapat balas jasa, balas budi bahkan tidak juga untuk
sepatah terima kasih. Tak ada “Take for
Granted” yang harus ditunggu…!.
Bang
Ostaf melanjutkannya dalam bab yang berjudul, “Schizophrenia Jurnalism’ and
‘Paranoid Journalism’”. Pada salah
satu paragraf bang Ostaf menulis, “Disebutkan bahwa pers merupakan pilar
keempat demokrasi sesudah struktur “trias politica” yakni eksekutif, yudikatif
dan legislatif. Penempatan sebutan tersebut menempatkan pers sebagai ‘pahlawan
imajiner di atas kertas’.
Mahasiswa,
menurut penulis tak perlu ikut masuk dalam “hero complex”, seperti yang
dikatakan oleh bang Ostaf. Meskipun
telah berhasil mengungkap berbagai kebenaran dan kebobrokan yang disembunyikan
oleh penguasa.
Mahasiswa
harus tampil biasa-biasanya saja dan tidak peduli dengan “hero complex”. Mahasiswa tak perlu terhisap dalam sindrom sosok
pahlawanisme. Bila Mahasiswa terjangkit “hero
complex” maka terjadilah ‘hero
complex mahasiswa’ atau ‘mahasiswa’ yang memposisikan diri sebagai pahlawan
atau merasa diri sebagai yang harus dipahlawankan.
Dalam tulisan ini, Ostaf al Mustafa
mengingatkan Mahasiswa (demonstran) tak perlu ikut masuk dalam daftar pahlawan,
atau ingin dikatakan sebagai pahlawan yang telah berjuang bersama kelompok
tertindas. Mahasiwa juga tak perlu menunggu balas jasa dari masyarakat apalagi
menunggu ucapan terimakasih.
Tak hanya pers mahasiswa, "anti-heroisme" karya Ostaf
al Mustafa mesti menjadi ruh gerakan mahasiswa Makassar. Karena mahasiswa
Makassar tak perlu popularitas seperti calon legislatif, dan calon kepala
daerah.
| Muhammad Arif tergeletak saat bentrok antara mahasiswa vs aparat di depan Kampus UMI (27/11). Sumber Foto: Google |
Mahasiswa Makassar juga tak butuh 'nama' untuk dikenang
apalagi dipuja sebagai sang penyelamat. Mahasiswa Makassar hanya menunaikan
tugasnya layaknya 'koboi', Menyelamatkan warga dari para bandit-bandit, kemudian
bergegas pulang. Warga pun tak sempat berbincang dan mengucapkan terima kasih.
Dua penggalan tulisan bang Ostaf yang penulis kutip cukup
untuk menjelaskan mengapa mahasiwa tak perlu ‘nama’, apalagi gelar pahlawan.
Terima kasih bang Ostaf yang telah mengingatkan kami (mahasiswa) bahwa kami
bukan hero!.
Peringatan ini juga sekaligus pesan untuk masyarakat yang
terus mengomel, memaki demonstran akibat macet. Bukankah, Makassar akan tetap
macet, meskipun tak ada demonstrasi. Pesan ini juga dibuat khusus bagi para ‘mahasiswa’
yang mengutuki demonstran di jalan yang memilih jadi mimpi buruk bagi
pemerintahan Jokowi-JK menaikkan BBM.
| tulisan Ostaf al Mustafa berjudul "Surat Tertutup untuk Mahasiswa Makassar yang terbit di Tribun Timur (28/11). Sumber: Tribun Timur |
‘Peringatan’ Anti-Heroisme karya Ostaf al Mustafa
mengingatkan penulis pada Wiji Tukul yang mengingatkan penguasa dengan puisi
perlawanannya berjudul "Peringatan".
“Jika
rakyat pergi
Kita penguasa berpidato
Kita penguasa berpidato
Kita
harus hati hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran
pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : LAWAN !
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : LAWAN !
Puisi ini sering diteriakkan oleh para demonstran di jalanan.
Sekali lagi, jalanan bukan panggung popularitas dan bukan
tempat mencari 'nama' untuk dipuja. Jalanan menjadi tempat mendidik penguasa
dengan perlawanan!.
Salam duka’ bagi kawan kita (Muhammad Arif) yang telah berani
mengatakan ‘tidak’ pada penguasa. Meski almarhum
tidak berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa, tapi Arif telah mengingatkan
kita bahwa tak perlu terdidik untuk melakukan protes kepada penguasa!. Selamat
jalan kawan Arif. Dari kejauhan, penulis mengirimkan doa’, Semoga husnul khotimah. Amiin. (*)
No comments:
Post a Comment