Saturday, November 29, 2014

ANTI-HEROISME


Balasan Tulisan Ostaf al Mustafa "SURAT TERTUTUP UNTUK MAHASISWA MAKASSAR"

Oleh: Asri Abdullah (Mantan Anggota UKPM Unhas)

Sebagai sesama mantan anggota UKM Pers Unhas (UKPMers) wajib bagi penulis membalas "surat tertutup" yang dikirim bang Ostaf kepada penulis. Baca: kolom opini (perspektif) Tribun Timur, Jumat (28/11).

Ostas al Mustafa atau biasa kami sapa Bang Ostaf adalah 'kawan' yang selalu mengingatkan kami (UKPMers) tentang "Anti-heroisme" yang beliau tulis dalam Vademekumenulis CaKa (Catatan Kaki) Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas sebagai alas ideologi UKPM Unhas.

Bahwa, mahasiswa (demonstran) bukanlah hero!. Jalanan bukanlah tempat mencari nama dan panggung popularitas. Selain jalanan, goresan pena (menulis) juga menjadi alat untuk menyampaikan kebenaran yang terus disembunyikan oleh penguasa!.
Jenazah Muhammad Arif (20), dishalatkan di Masjid Jalan Pampang I, Makassar, Jumat (28/11/2014). Arif meninggal akibat luka dibagian kepalanya saat terjadi bentrokan didepan kampus UMI, Makassar, Malam (27/11) malam. FOTO: Maman Sukirman, SINDO
Bagi kami di Pers mahasiswa, menulis adalah bagian dari gerakan mahasiswa. Penguasa mungkin bisa memenjarakan ‘tubuh’ seorang demonstran, tapi kata-kata demonstran  tak bisa dipenjarakan!. Olehnya itu, menulis melalui Jurnalistikritis ala’ Vademekum Caka (Catatan Kaki, Buletin terbitan UKPM Unhas) adalah salah satu perjuangan UKPMers selain di jalanan.

Mengingat, media mainstream/industri media tak banyak memahami pesan gerakan mahasiswa Makassar. Mereka terlalu terikat dengan berbagai aturan jurnalistik yang ‘kaku’. ‘Nilai berita’ dijadikan ruh dalam menulis berita untuk menarik perhatian pembaca. Alasan inilah mengapa Pers Mahasiswa tumbuh subur di kampus-kampus.

Pers Mahasiswa, dalam Vademekum Caka karya Ostaf al Mustafa, mengingatkan reportase Pers mahasiswa harus realistis, meskipun harus menggunakan kalimat-kalimat imajiner dalam jurnalistik kesusastraan (jurnalistik sastra) atau bahkan bila harus menggunakan ‘jurnalisme seribu mata’ (jurnalisme yang menggabungkan filsafat, sastra, dan realitas).

Anti-heroisme
“Seperti koboi, setelah menghabisi semua bajingan. Ia akan pergi begitu saja tanpa menyebutkan namanya”, begitulah kutipan Ostaf al Mustafa pada ‘Surat Tertutup untuk Mahasiswa Makassar’ saat dialog ‘luka dari Kampus’ di Hotel Quality Makassar, Jumat (06/12/2013) lalu. Sejumlah ‘petinggi’ mahasiswa dari berbagai kampus hadir dalam acara tersebut. Termasuk penulis dan bang Ostaf.
Bentrokan di depan kampus UMI antara mahasiswa dibantu warga vs aparat kepolisian, Makassar, Malam (27/11) malam. FOTO: Maman Sukirman, SINDO
Saat dialog, penulis mengingatkan sosok mahasiswa yang tak perlu menceritakan apa yang pernah dilakukannya di jalanan bersama masyarakat yang dibela. Kata ini keluar saat seorang mahasiswa mengaku telah berkali-kali berjuang di jalanan membela rakyat miskin dan mengaku telah ditikam ‘preman bayaran’ saat melakukan demonstrasi di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Anti-Heroisme telah ditulis rapi dan ditegaskan oleh Ostaf al Mustafa dalam Vademekum UKPM Unhas. Berikut penggalan tulisannya, “…Apapun yang diperbuat Mahasiswa, bukanlah suatu upaya untuk mendapat balas jasa, balas budi bahkan tidak juga untuk sepatah terima kasih. Tak ada “Take for Granted” yang harus ditunggu…!.

Bang Ostaf melanjutkannya dalam bab yang berjudul, “Schizophrenia Jurnalism’ and ‘Paranoid Journalism’”.  Pada salah satu paragraf bang Ostaf menulis, “Disebutkan bahwa pers merupakan pilar keempat demokrasi sesudah struktur “trias politica” yakni eksekutif, yudikatif dan legislatif. Penempatan sebutan tersebut menempatkan pers sebagai ‘pahlawan imajiner di atas kertas’.

Mahasiswa, menurut penulis tak perlu ikut masuk dalam “hero complex”, seperti yang dikatakan oleh bang Ostaf.  Meskipun telah berhasil mengungkap berbagai kebenaran dan kebobrokan yang disembunyikan oleh penguasa.

Mahasiswa harus tampil biasa-biasanya saja dan tidak peduli dengan “hero complex”. Mahasiswa tak perlu terhisap dalam sindrom sosok pahlawanisme. Bila Mahasiswa terjangkit “hero complex” maka terjadilah ‘hero complex mahasiswa’ atau ‘mahasiswa’ yang memposisikan diri sebagai pahlawan atau merasa diri sebagai yang harus dipahlawankan.

Dalam tulisan ini, Ostaf al Mustafa mengingatkan Mahasiswa (demonstran) tak perlu ikut masuk dalam daftar pahlawan, atau ingin dikatakan sebagai pahlawan yang telah berjuang bersama kelompok tertindas. Mahasiwa juga tak perlu menunggu balas jasa dari masyarakat apalagi menunggu ucapan terimakasih.

Tak hanya pers mahasiswa, "anti-heroisme" karya Ostaf al Mustafa mesti menjadi ruh gerakan mahasiswa Makassar. Karena mahasiswa Makassar tak perlu popularitas seperti calon legislatif, dan calon kepala daerah.
Muhammad Arif tergeletak saat bentrok antara mahasiswa vs aparat di depan Kampus UMI (27/11). Sumber Foto: Google

Mahasiswa Makassar juga tak butuh 'nama' untuk dikenang apalagi dipuja sebagai sang penyelamat. Mahasiswa Makassar hanya menunaikan tugasnya layaknya 'koboi', Menyelamatkan warga dari para bandit-bandit, kemudian bergegas pulang. Warga pun tak sempat berbincang dan mengucapkan terima kasih.

Dua penggalan tulisan bang Ostaf yang penulis kutip cukup untuk menjelaskan mengapa mahasiwa tak perlu ‘nama’, apalagi gelar pahlawan. Terima kasih bang Ostaf yang telah mengingatkan kami (mahasiswa) bahwa kami bukan hero!.

Peringatan ini juga sekaligus pesan untuk masyarakat yang terus mengomel, memaki demonstran akibat macet. Bukankah, Makassar akan tetap macet, meskipun tak ada demonstrasi. Pesan ini juga dibuat khusus bagi para ‘mahasiswa’ yang mengutuki demonstran di jalan yang memilih jadi mimpi buruk bagi pemerintahan Jokowi-JK menaikkan BBM.
tulisan Ostaf al Mustafa berjudul "Surat Tertutup untuk Mahasiswa Makassar yang terbit di Tribun Timur (28/11). Sumber: Tribun Timur
‘Peringatan’ Anti-Heroisme karya Ostaf al Mustafa mengingatkan penulis pada Wiji Tukul yang mengingatkan penguasa dengan puisi perlawanannya berjudul "Peringatan".

“Jika rakyat pergi
Kita penguasa berpidato
Kita harus hati hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : LAWAN !

Puisi ini sering diteriakkan oleh para demonstran di jalanan.
Sekali lagi, jalanan bukan panggung popularitas dan bukan tempat mencari 'nama' untuk dipuja. Jalanan menjadi tempat mendidik penguasa dengan perlawanan!.

Salam duka’ bagi kawan kita (Muhammad Arif) yang telah berani mengatakan ‘tidak’ pada penguasa. Meski almarhum tidak berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa, tapi Arif telah mengingatkan kita bahwa tak perlu terdidik untuk melakukan protes kepada penguasa!. Selamat jalan kawan Arif. Dari kejauhan, penulis mengirimkan doa’, Semoga husnul khotimah. Amiin. (*)

No comments:

Post a Comment