Sunday, November 30, 2014

‘ALARM’ BUAT PARA REKTOR



Oleh: Asri Abdullah (Mantan Ketua UKM Pers Unhas)

Kampus adalah harapan. Tempat segala pengetahuan diuji, ditafsirkan dan diterjemahkan. Di kampus, tak ada kelas antara si kaya dan si miskin. Di kampus hak asasi manusia, keadilan, dan kemanusiaan dikumandangkan. Tempat dimana bangsa ini menggantungkan masa depannya. Kini, ruang bersemayamnya pengetahuan itu menjelma menjadi ‘penjara’.

Para demonstran dituduh pemberontak, tidak terpelajar, provokator, perusak fasilitas umum dan melawan negara.

Bagi demonstran, kampus telah mendidik mereka untuk tidak patuh pada penguasa. Kepada penguasa yang menipu. Kampus mengajarkan selalu curiga pada kekuasaan. Di kampus, demonstran belajar mendengar dan bicara. Berlajar berdiri tegak pada penguasa yang dengan mudah menembaki rakyatnya yang protes.
Mahasiswa UMI Makassar menutup jalan saat demonstrasi di depan kampusnya (10/11). FOTO: Sanovra JR, Tribun Timur

Kini, kampus telah membungkam semuanya. Melarang protes, memasung daya kritis mahasiswa dengan DO, skorsing dan libur.

Tragedi Universitas Muslim Indonesia (UMI) telah terjadi!. UMI berduka.

Kampus seharusnya mengumpulkan para pemikir dan praktisi mengkaji kebijakan penaikan BBM. Tidak bertindak sebagai penghukum bagi demonstran. Kampus harusnya menguji nalar dengan dialog publik, tidak dengan membungkamnya dengan libur, DO dan skorsing.

Kepada para demonstran, terkhusus kepada sang pemberani di kampus UMI. Masa depan kalian tidak ditentukan dengan sanksi DO dan skorsing. Kalian adalah pemberani dan petarung sejati.

Kalian adalah bara perlawanan yang akan terus memerah, membara dan membakar para demonstran di jalanan. Bagi tiran, kalian adalah mimpi buruk!. Terus kepalkan tangan kalian menantang tiran. Terus maki penguasa dengan kemarahan. Siapkan pemberontakan kepada mereka yang memihak penindasan.

Bara perlawanan kalian akan terus membakar. Karena ‘sejuta kata’ akan menjadi ‘peluru’ yang akan menembus jantung rektor yang telah memasung daya kritis kalian.
Jenazah Muhammad Arif (20), dishalatkan di Masjid Jalan Pampang I, Makassar, Jumat (28/11/2014). Arif meninggal akibat luka dibagian kepalanya saat terjadi bentrokan didepan kampus UMI, Makassar, Malam (27/11) malam. FOTO: Maman Sukirman, SINDO
Rektor UMI telah memancing ‘kegaduhan’ di kota para demonstran. Ini ‘alarm’ bagi para rektor yang tak paham arti dari sebuah perjuangan bagi rakyat kecil di negeri ini. Tuduhan pemberontak dan melawan pemerintah akan memicu perlawanan demonstran di pelosok nusantara.

DO, skorsing dan menutup kampus dengan libur adalah petanda kampus telah memihak pada penguasa.

Kampus mestinya memupuk nalar dan daya kritis mahasiswa. Karena kampus adalah harapan rakyat dan bangsa Indonesia. Bukan membungkamnya dengan sanksi skorsing dan DO. Pendidikan harusnya ditandai dengan perlawanan terhadap tirani, bukan ketundukan!.

Rektor UMI mungkin tak pernah mengenal Pramoedya Ananta Toer yang menaruh harapan pada generasi muda. “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika generasi muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa". Rektor UMI ingin mematikan sejarah bangsa dengan 'memasung' delapan mahasiswanya.

Rektor UMI juga tak tau bahwa pemikir pendidikan dunia, Paulo Freire (1970), telah mengingat kelompok terpelajar dan kalangan intelektual bahwa pendidikan bertujuan untuk memupuk nalar dan daya kritis serta menjadikan manusia sebagai makhluk yang merdeka. Pendidikan tidak mengajarkan kepatuhan. Tunduk, diam, dan patuh bukan tujuan pendidikan.

Kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi harusnya melahirkan pelajar yang gigih melakukan protes dan perlawanan terhadap tirani, bukan dengan ketundukan!.

Rektor UMI mungkin tak pernah mendengar nama Mansour Fakih (2002) yang mengatakan tugas kaum intelektual tidak hanya memberi makna pada realitas dengan berbagai teori dan meratapinya. Tapi bagaimana mengubah kondisi masyarakat  timpang.

Pastinya, Rektor UMI tak pernah membaca buku Eriyanto: Analisi Wacana (2001), tentang bagaimana media melakukan konstruk realitas melalui aksi 'anarkis' mahasiswa, apalagi membaca buku 'Anarkisme' karya Sean M. Sheehan (2007).

Sudahlah. Apapun alasan rektor memecat ke delapan demonstran yang memilih berada di samping rakyat ketika BBM naik, sangatlah tergesa-gesa. Apalagi dengan alasan tindakan 'anarkis'.

Jika benar alasan tindakan anarkis mahasiswanya, apakah tidak lebih anarkis ketika pemerintah menggusur pedagang kaki lima yang hanya mencari sesuap nasi di jalanan.

‘Perang jalanan’ saat ini tidak hanya ditujukan bagi pemerintahan Jokowi-JK, tapi juga kepada petinggi kampus yang tiran !.

Ini 'alarm' buat para Rektor ! (*)

1 comment:

  1. Maaf ket gambar salah. Itu foto d aceh klo tidak salah ingat

    ReplyDelete