Friday, November 21, 2014

MAKASSAR, KOTA PARA DEMONSTRAN


Oleh: Asri Abdullah (Mantan Ketua UKM Pers Unhas/ Mahasiswa Pascasarjana Unhas) 
 
JIKA GENDERANG ‘perang jalanan’ telah ditabuh, luka telah pecah, darah telah terpercik di jalanan, di rumah sakit, dan penguasa menjadi tunarungu, maka mahasiswa Makassar pantang kembali ke ruang kuliah meski libur menanti di kampus. Jalanan menjadi tempat belajar yang paling bernilai, tempat semua pengetahuan diuji dan ditafsirkan.
 
Mahasiswa telah bergerak, brikade ban api terus membara di jalan-jalan, tak ada lagi warna almamater, merah, kuning, biru, hijau, orange dan putih. Semua satu dalam gerakan rakyat menolak kenaikan BBM. Meski dihujani api, air, batu dan peluru, mahasiswa tetap berada di jalan, memaki penguasa.
Bentrokan di UNM (19/11). Foto: Fahmi Ali, TEMPO
Situasi perang kini melanda Makassar. Kampus-kampus dibungkam dengan libur, mahasiswa tertuduh sebagai kelompok anarkis dan provokator, anggota TNI bersenjata lengkap siaga di titik-titik strategis kota, dan sang pewarta dibungkam dengan popor senjata.

Sekelompok preman bayaran dengan bebas membakar fasilitas kampus dan menyerang para demonstran. Makassar kini mencekam, kota dengan berbagai teror bagi warganya. Kampus-Kampus dibuat seperti gudang dengan meliburkan mahasiswa. Anggota TNI disiagakan di depan kampus. Kampus menjelma menjadi barak tentara. Makassar seakan darurat militer, siaga ‘perang kota’.

Kota para demonstran
Sepekan, Makassar menjadi kota demonstrasi. Kota dengan amuk massa menentang kenaikan BBM. Bentrokan terjadi di semua kampus. Di Universitas Muhammadiyah Makassar, mahasiswa berhari-hari berhadapan dengan gas air mata, bom molotov, busur, dan water cannon aparat. Brikade ban api menjadi benteng pertahanan mahasiswa. Pagar kampus dijadikan tameng. 

Di Universitas Negeri Makassar (UNM) pun demikian. Mahasiswa memblokade jalan dengan brikade ban api. Bentrok dengan aparat pun tak terhindarkan. Sejumlah kelompok massa yang  disebut ‘warga’ menyerang mahasiswa dengan batu, ketapel dibantu oleh aparat. Aparat juga merusak sejumlah fasilitas kampus dan memukul sejumlah mahasiswa dan dosen yang sedang kuliah. Wartawan juga diserang oleh aparat. Bahkan, sejumlah petinggi kampus , seperti wakil dekan digelandang aparat ke kantor polisi. Bentrokan juga berlangsung di kampus, UMI, UIN, UIT, 45 dan Unhas.
Panzer TNI bersiaga di depan Kampus UNM saat bentrokan berlangsung (19/11). Foto: Fahmi Ali, TEMPO
Bentrokan di Unhas sedikit berbeda. Selasa (18/11), sekitar pukul 15.00 Wita puluhan mahasiswa Unhas memblokade jalan di depan pintu satu Unhas dengan brikade ban api. Setelah berhasil menguasai dua jalur dengan brikade kendaraan, jalan di Perintis Kemerdekaan macet total hingga pukul 18.00 Wita. 

Kondisi memanas. Pukul 18.30, bentrok pun tak terhindarkan. Sekelompok orang tak dikenal, melempari demonstran dengan batu. Saling lempar pun terjadi. Mahasiswa kemudian terkonsentrasi di depan pagar kampus. Massa yang telah berkerumun di depan pertamina pintu satu Unhas tak mampu lagi dibedakan mana warga yang menonton dan mana aparat tanpa seragam.

Pukul 20.30 Wita, botol api bersumbu (molotov) tiba-tiba mengudara mengarah ke kerumunan mahasiswa. Tidak hanya itu, massa juga menggunakan lampu sorot yang diarahkan ke mahasiswa.
Pasukan TNI berjaga di depan Kampus UNHAS (19/11). Foto: FAhmi Ali, TEMPO
Kelompok yang terorganisir rapi ini berbaur dengan kerumunan warga yang menonton bentrokan. Berkali-kali bunyi letusan di dalam kampus. Ternyata petasan roket ditembakkan massa ke dalam kampus. Jumlahnya tak sedikit. Pintu satu unhas pun menjelma bak perayaan tahun baru. Cahaya memerah menghiasi udara di langit ‘merah’. Ledakan pun bersahut-sahutan.

Aparat berseragam tak banyak berbuat apa-apa melihat bentrokan. Pukul 21.30 kondisi kembali memanas ketika massa melemparkan granat pijar atau biasa disebut peluru suar atau flare. Mendadak, situasi mencekam. Granat pijar mengeluarkan cahaya yang berwarna merah sebagai penerang untuk menandai posisi mahasiswa. Di bantu lampu sorot dan serangan batu serta molotov, massa berhasil memukul mundur mahasiswa ke dalam kampus.

Massa merangsek masuk ke dalam kampus dengan merusak pagar kampus dan pos satpam. Api pun berkobar karena puluhan sepeda yang terparkir rapi dibakar massa.

Tak puas merusak pos satpam dan membakar sepeda, massa bergerak 200 meter masuk ke dalam kampus. Mahasiswa pun terpaksa mundur karena tak sanggup membendung serangan massa yang jumlahnya ratusan. Satu-persatu motor mahasiswa yang ditemui massa di sepanjang jalan dibakar. Beberapa kali terdengar ledakan tangki motor.
Sisa puing-puing pembakaran di UNHAS pasca bentrokan di UNHAS (18/11) dan Pasukan TNI dan 2 Panzer berjaga di pintu 1 Unhas. Foto: Fahmi Ali, TEMPO
Mahasiswa yang berusaha mempertahankan brikade dengan melemparkan batu ke arah massa, tapi mahasiswa kalah jumlah dengan massa penyerang yang berjumlah sekitar 200-an. Massa berhasil sampai di samping masjid kampus, dan membakar sejumlah motor yang terparkir di dekat masjid kampus. Suara ledakan pun terus menggema. Massa juga memukul mahasiswa yang berada di dalam masjid dan merusak fasilitas di sekitar masjid, seperti ‘rumah kaca’. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 22.30 hingga 23.00 wita.

Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Rektor 3 Unhas, Nasaruddin Salam, memantau bentrokan ditemani sejumlah dosen dan stafnya. Salah seorang dosen mengungkapkan, “Ibu Rektor Unhas Prof Dwia berkali-kali menghubungi Kapolda untuk mengamankan bentrokan, tapi telepon ipar wakil presiden RI ini tak diangkat,” ungkapnya.

Hingga pukul 23.30 ratusan anggota TNI AD dari dari Kodam VII Wirabuana bersenjata lengkap (tongkat dan tameng) masuk ke dalam kampus mengamankan situasi. Bentrok pun reda. Kodam VII Wirabuana juga menurunkan 2 unit panzer di depan pintu satu hingga Rabu, (19/11).

Mahasiswa vs ‘warga’?
Serangan sistematis dan terorganisir oleh massa penyerang mahasiswa bukanlah hal biasa. Apalagi dilengkapi bom molotov, busur, petasan roket, lampu sorot dan granat pijar/flare yang harganya tidak murah. Jika benar warga, tak mungkin dalam waktu singkat warga dapat menyiapkan sederet alat tersebut.
Kondisi pasca bentrokan UNHAS (18/11). Foto: Fahmi Ali, TEMPO
Metode provokasi adalah metode yang sering digunakan aparat untuk mengadu-domba warga dan mahasiswa. Metode ini sering digunakan aparat dalam penanganan demonstrasi. Ketika warga terprovokasi, maka menjadi alasan aparat menyerang mahasiswa masuk ke dalam kampus. Wajar saja, aparat membiarkan bentrokan berlangsung dan tak menghalangi massa merusak fasilitas kampus.

Setelah penyerangan ini, berbagai spekulasi bermunculan. Ada yang menuduh aksi mahasiswa anarkis, ditunggangi, ada provokator dan ada yang menilai, mahasiswa yang bentrok bukan mahasiswa Unhas.

Mereka yang menuduh adanya provokator di balik bentrokan adalah mereka yang malas berpikir. Sama ketika aparat yang selalu menuduh provokator sebagai tokoh fiktif sebagai dalang bentrokan. Padahal, sejatinya seorang demonstran adalah mereka yang mampu melakukan agitasi dan mampu memprovokasi. Jadi yang dimaksud provokator yang mana?.

Demonstran Makassar memang berbeda dengan mahasiswa di daerah lain. Di Makassar, mahasiswa tak pernah membicarakan kemiskinan di hotel-hotel megah dan di pusat-pusat perbelanjaan. Mereka menyatu dengan kemiskinan, di jalanan, di gang-gang kumuh, dan di pinggiran kota. Mereka merasakan apa itu kemiskinan.

Di Makassar, ketika mahasiswa Makassar dibungkam dengan senjata, maka pada saat itu juga, pemberontakan dan perlawanan telah dipersiapkan. Mereka menolak takut. Ketakutan hanya menghilangkan akal sehat mahasiswa. Keberanian di jalanan adalah kehormatan bagi mahasiswa Makassar. Inilah kota para demonstran, kota ‘sejuta’ pejuang jalanan.(*)

No comments:

Post a Comment