Oleh: Asri Abdullah (Mantan Ketua UKM Pers Unhas/ Mahasiswa Pascasarjana Unhas)
JIKA GENDERANG ‘perang jalanan’ telah ditabuh, luka
telah pecah, darah telah terpercik di jalanan, di rumah sakit, dan penguasa
menjadi tunarungu, maka mahasiswa Makassar pantang kembali ke ruang kuliah
meski libur menanti di kampus. Jalanan menjadi tempat belajar yang paling
bernilai, tempat semua pengetahuan diuji dan ditafsirkan.
Mahasiswa telah bergerak, brikade ban api terus
membara di jalan-jalan, tak ada lagi warna almamater, merah, kuning, biru,
hijau, orange dan putih. Semua satu dalam gerakan rakyat menolak kenaikan BBM.
Meski dihujani api, air, batu dan peluru, mahasiswa tetap berada di jalan,
memaki penguasa.
| Bentrokan di UNM (19/11). Foto: Fahmi Ali, TEMPO |
Situasi perang kini melanda Makassar. Kampus-kampus
dibungkam dengan libur, mahasiswa tertuduh sebagai kelompok anarkis dan
provokator, anggota TNI bersenjata lengkap siaga di titik-titik strategis kota,
dan sang pewarta dibungkam dengan popor senjata.
Sekelompok preman bayaran dengan bebas membakar
fasilitas kampus dan menyerang para demonstran. Makassar kini mencekam, kota
dengan berbagai teror bagi warganya. Kampus-Kampus dibuat seperti gudang dengan
meliburkan mahasiswa. Anggota TNI disiagakan di depan kampus. Kampus menjelma
menjadi barak tentara. Makassar seakan darurat militer, siaga ‘perang kota’.
Kota para demonstran
Sepekan, Makassar menjadi kota demonstrasi. Kota
dengan amuk massa menentang kenaikan BBM. Bentrokan terjadi di semua kampus. Di
Universitas Muhammadiyah Makassar, mahasiswa berhari-hari berhadapan dengan gas
air mata, bom molotov, busur, dan water
cannon aparat. Brikade ban api menjadi benteng pertahanan mahasiswa. Pagar kampus
dijadikan tameng.
Di Universitas Negeri Makassar (UNM) pun demikian. Mahasiswa
memblokade jalan dengan brikade ban api. Bentrok dengan aparat pun tak
terhindarkan. Sejumlah kelompok massa yang disebut ‘warga’ menyerang mahasiswa dengan
batu, ketapel dibantu oleh aparat. Aparat juga merusak sejumlah fasilitas
kampus dan memukul sejumlah mahasiswa dan dosen yang sedang kuliah. Wartawan
juga diserang oleh aparat. Bahkan, sejumlah petinggi kampus , seperti wakil
dekan digelandang aparat ke kantor polisi. Bentrokan juga berlangsung di kampus,
UMI, UIN, UIT, 45 dan Unhas.
| Panzer TNI bersiaga di depan Kampus UNM saat bentrokan berlangsung (19/11). Foto: Fahmi Ali, TEMPO |
Bentrokan di Unhas sedikit berbeda. Selasa (18/11),
sekitar pukul 15.00 Wita puluhan mahasiswa Unhas memblokade jalan di depan
pintu satu Unhas dengan brikade ban api. Setelah berhasil menguasai dua jalur
dengan brikade kendaraan, jalan di Perintis Kemerdekaan macet total hingga
pukul 18.00 Wita.
Kondisi memanas. Pukul 18.30, bentrok pun tak
terhindarkan. Sekelompok orang tak dikenal, melempari demonstran dengan batu. Saling
lempar pun terjadi. Mahasiswa kemudian terkonsentrasi di depan pagar kampus. Massa
yang telah berkerumun di depan pertamina pintu satu Unhas tak mampu lagi
dibedakan mana warga yang menonton dan mana aparat tanpa seragam.
Pukul 20.30 Wita, botol api bersumbu (molotov)
tiba-tiba mengudara mengarah ke kerumunan mahasiswa. Tidak hanya itu, massa
juga menggunakan lampu sorot yang diarahkan ke mahasiswa.
| Pasukan TNI berjaga di depan Kampus UNHAS (19/11). Foto: FAhmi Ali, TEMPO |
Kelompok yang terorganisir rapi ini berbaur dengan
kerumunan warga yang menonton bentrokan. Berkali-kali bunyi letusan di dalam
kampus. Ternyata petasan roket ditembakkan massa ke dalam kampus. Jumlahnya tak
sedikit. Pintu satu unhas pun menjelma bak perayaan tahun baru. Cahaya memerah
menghiasi udara di langit ‘merah’. Ledakan pun bersahut-sahutan.
Aparat berseragam tak banyak berbuat apa-apa melihat
bentrokan. Pukul 21.30 kondisi kembali memanas ketika massa melemparkan granat
pijar atau biasa disebut peluru suar atau flare.
Mendadak, situasi mencekam. Granat pijar mengeluarkan cahaya yang berwarna
merah sebagai penerang untuk menandai posisi mahasiswa. Di bantu lampu sorot
dan serangan batu serta molotov, massa berhasil memukul mundur mahasiswa ke dalam
kampus.
Massa merangsek masuk ke dalam kampus dengan merusak
pagar kampus dan pos satpam. Api pun berkobar karena puluhan sepeda yang
terparkir rapi dibakar massa.
Tak puas merusak pos satpam dan membakar sepeda, massa
bergerak 200 meter masuk ke dalam kampus. Mahasiswa pun terpaksa mundur karena
tak sanggup membendung serangan massa yang jumlahnya ratusan. Satu-persatu
motor mahasiswa yang ditemui massa di sepanjang jalan dibakar. Beberapa kali
terdengar ledakan tangki motor.
| Sisa puing-puing pembakaran di UNHAS pasca bentrokan di UNHAS (18/11) dan Pasukan TNI dan 2 Panzer berjaga di pintu 1 Unhas. Foto: Fahmi Ali, TEMPO |
Mahasiswa yang berusaha mempertahankan brikade dengan
melemparkan batu ke arah massa, tapi mahasiswa kalah jumlah dengan massa
penyerang yang berjumlah sekitar 200-an. Massa berhasil sampai di samping
masjid kampus, dan membakar sejumlah motor yang terparkir di dekat masjid
kampus. Suara ledakan pun terus menggema. Massa juga memukul mahasiswa yang
berada di dalam masjid dan merusak fasilitas di sekitar masjid, seperti ‘rumah
kaca’. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 22.30 hingga 23.00 wita.
Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Rektor 3 Unhas, Nasaruddin
Salam, memantau bentrokan ditemani sejumlah dosen dan stafnya. Salah seorang
dosen mengungkapkan, “Ibu Rektor Unhas Prof Dwia berkali-kali menghubungi Kapolda
untuk mengamankan bentrokan, tapi telepon ipar wakil presiden RI ini tak diangkat,”
ungkapnya.
Hingga pukul 23.30 ratusan anggota TNI AD dari dari
Kodam VII Wirabuana bersenjata lengkap (tongkat dan tameng) masuk ke dalam
kampus mengamankan situasi. Bentrok pun reda. Kodam VII Wirabuana juga
menurunkan 2 unit panzer di depan pintu satu hingga Rabu, (19/11).
Mahasiswa vs
‘warga’?
Serangan sistematis dan terorganisir oleh massa penyerang
mahasiswa bukanlah hal biasa. Apalagi dilengkapi bom molotov, busur, petasan
roket, lampu sorot dan granat pijar/flare
yang harganya tidak murah. Jika benar warga, tak mungkin dalam waktu singkat
warga dapat menyiapkan sederet alat tersebut.
| Kondisi pasca bentrokan UNHAS (18/11). Foto: Fahmi Ali, TEMPO |
Metode provokasi adalah metode yang sering digunakan
aparat untuk mengadu-domba warga dan mahasiswa. Metode ini sering digunakan
aparat dalam penanganan demonstrasi. Ketika warga terprovokasi, maka menjadi alasan
aparat menyerang mahasiswa masuk ke dalam kampus. Wajar saja, aparat membiarkan
bentrokan berlangsung dan tak menghalangi massa merusak fasilitas kampus.
Setelah penyerangan ini, berbagai spekulasi
bermunculan. Ada yang menuduh aksi mahasiswa anarkis, ditunggangi, ada provokator
dan ada yang menilai, mahasiswa yang bentrok bukan mahasiswa Unhas.
Mereka yang menuduh adanya provokator di balik
bentrokan adalah mereka yang malas berpikir. Sama ketika aparat yang selalu
menuduh provokator sebagai tokoh fiktif sebagai dalang bentrokan. Padahal,
sejatinya seorang demonstran adalah mereka yang mampu melakukan agitasi dan
mampu memprovokasi. Jadi yang dimaksud provokator yang mana?.
Demonstran Makassar memang berbeda dengan mahasiswa di
daerah lain. Di Makassar, mahasiswa tak pernah membicarakan kemiskinan di
hotel-hotel megah dan di pusat-pusat perbelanjaan. Mereka menyatu dengan
kemiskinan, di jalanan, di gang-gang kumuh, dan di pinggiran kota. Mereka merasakan
apa itu kemiskinan.
Di Makassar, ketika mahasiswa Makassar dibungkam
dengan senjata, maka pada saat itu juga, pemberontakan dan perlawanan telah
dipersiapkan. Mereka menolak takut. Ketakutan hanya menghilangkan akal sehat
mahasiswa. Keberanian di jalanan adalah kehormatan bagi mahasiswa Makassar. Inilah
kota para demonstran, kota ‘sejuta’ pejuang jalanan.(*)
No comments:
Post a Comment