Friday, June 14, 2013

Menakar Adipura di Kota Sampah


Kota Makassar akhirnya meraih piala Adipura setelah 15 tahun menunggu. Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, menerima langsung piala dalam kategori kota metropolitan, yang bersih, hijau, dan sehat pada 10 Juni 2013 di Jakarta. Setelah tiba di Makassar, piala ini kemudian diarak keliling kota selama bebeapa hari. Masyarakat Makassar kemudian di‘paksa’ menyambut ‘prestasi’ ini dengan memenuhi badan jalan dengan sorak-sorai penuh gembira.

Euforia sebagian warga Makassar menyambut kedatangan piala Adipura di beberapa kecamatan menelisik kondisi kota Makassar saat ini. Di tengah berbagai persoalan yang mendera Makassar seperti banjir, macet, sampah, dan kemiskinan, piala Adipura justru semakin mencoreng rasa keadilan warga Makassar mengenai kebersihan kota.

Saat ini, mungkin piala Adipura menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemerintah kota Makassar yang telah mengklaim berhasil menjaga kebersihan. Tapi, tidak bagi sebagian besar warga Makassar yang pemukimannya masih dipenuhi sampah yang  berserakan dan tidak memiliki tempat sampah atau kontainer sampah.

Tidak hanya itu, piala Adipura yang diraih saat ini sangat kontradiksi dengan kondisi di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar yang mengeluhkan kurangnya armada pengangkut sampah. Akibat kekurangan mobil angkutan sampah, tak jarang kita menemui banyak sampah berserakan di kota ‘Daeng’ ini yang tidak tertampung di tempat sampah dan tidak diangkut ke pembuangan akhir sampah.

Kota sampah
Berdasarkan hasil survey Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC) yang dilakukan pada April 2013, harapan warga Makassar tentang persoalan kota yang paling mendesak untuk ditangani segera oleh pemerintah adalah sampah (26.08 %). Persoalan kota lainnya yang juga mendesak untuk dibenahi adalah banjir, dan kemiskinan (17.60 %), serta macet (13 78 %). Hal ini sangat bertentangan dengan kehadiran piala Adipura.

Hasil penelitian ini mestinya menjadi alat untuk mengukur kinerja pemerintahan dalam menciptakan kebersihan kota. Harapan warga adalah wujud persoalan dan kegelisahan yang mendera keseharian warga Makassar. Rekaman opini publik ini juga menjadi bukti bahwa sampah menjadi persoalan serius yang dihadapi warga Makassar sehari-hari. Khususnya di sebagian besar kecamatan di Makassar. Utamanya sampah yang menumpuk di kanal, selokan, dan di perumahan-perumahan warga yang tidak memiliki tempat sampah.

Piala Adipura juga tidak sejalan dengan fakta bahwa dengan jumlah penduduk Makassar yang mencapai 1,4 juta jiwa, warga Makassar memproduksi 570 ton sampah per hari. Sementara Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar hanya mampu mengangkut 400 ton lebih per hari ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Selebihnya dibiarkan bertebaran di jalan, selokan dan kanal.

Persolaan lain yang juga mempertanyakan kehadiran piala Adipura adalah kurangnya armada pengangkut sampah yang dimiliki Pemerintah Kota Makassar. Yang dimiliki saat ini hanya 151 armada dan 200 kontainer. Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar, mengakui Makassar kekurangan armada pengangkut sampah. Idealnya Makassar seharusnya memiliki armada pengangkut sampah 200 unit. Berarti Makassar masih kekurangan 50 lebih armada angkutan sampah. (Baca: Tribun Timur (10/6)).

Selain persoalan armada angkutan dan kontainer sampah, Pemerintah Kota Makassar juga kesulitan mencari lahan TPA sampah. Lahan TPA sampah bertempat di wilayah Tamangapa, Kecamatan Manggala yang seluas 14,3 hektare, saat ini sudah tak mampu lagi menampung jumlah sampah warga Makassar yang terus bertambah setiap harinya. Seiring pertumbuhan jumlah penduduk Makassar.

Dengan jumlah penduduk Makassar saat ini mencapai 1,4 juta jiwa, warga Makassar menghasilkan 3.800 meter kubik per hari. Sementara itu, kapasitas TPA Tamangapa hanya mampu menampung sampah 2.800 meter kubik per hari dengan luas lahan 14,3 hektare. Berarti ada 1.000 meter kubik perhari sampah yang tidak tertampung. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah serius Pemerintah Kota Makassar. Bisa dibayangkan jika dalam sebulan tidak terangkut, maka bukan tidak mungkin Makassar akan menjadi kota sampah. Kota yang menggiring warganya menuju kematian dengan berbagai penyakit. Jangan pernah berharap memimpikan masyarakat yang sehat jika kota dipenuhi dengan sampah.

Lebih parahnya lagi, salah satu ikon Kota Makassar yang kerap mejadi pusat destinasi warga Makassar dan wisatawan asing juga menjadi tempat pembuangan sampah warga.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Makassar menggerakkan birokrasi dalam memberantas sampah. Mulai dari menghilangkan kegiatan senam pagi setiap hari Jumat yang kemudian berganti menjadi kerja bakti, hingga memberikan sanksi tegas bagi warga yang membuang sampah di sembarang tempat. Dendanya hingga 50 juta rupiah. Mengacu pada Peraturan Daerah No. 4 tahun 2011.

Berbagai fakta yang ditemukan di lapangan menelisik hati warga Makassar mengenai piala Adipura yang kini diraih Makassar. Mengingat kondisi Makassar yang sebentar lagi menjadi kota sampah. Piala Adipura yang terus dibangga-banggakan oleh pemerintah justru akan mengusik rasa keadilan masyarakat yang belum terpenuhi, yakni tinggal di kota yang bersih, nyaman dan sehat. Apalagi retribusi sampah terus dipungut dari warga.

Pertunjukan sirkus
Arak-arakan piala Adipura merupakan tindakan berlebihan yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar. Aksi pamer di tengah kekotoran kota justru membuat masyarakat semakin antipati terhadap Pemerintah. Keberhasilan pemerintah saat ini hanya berdasarkan pada seberapa banyak penghargaan yang diraih, bukan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan harapan masyarakat. Mental pemimpin seperti inilah yang kemudian melahirkan pemerintah yang ingin dilayani, bukan melayani.

Iring-iringan piala Adipura di sepanjang jalan kota Makassar juga telah mengekploitasi para guru dan siswa. Para guru dan siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di‘paksa’ bergembira menyambut penghargaan yang tak sepantasnya didapatkan dengan kondisi Makassar saat ini. Euforia piala Adipura ibarat pertunjukan sirkus yang sangat membutuhkan kegembiraan dan tepuk tangan penonton.

No comments:

Post a Comment