Kota Makassar akhirnya meraih piala Adipura setelah 15 tahun
menunggu. Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, menerima langsung piala dalam
kategori kota metropolitan, yang bersih, hijau, dan sehat pada 10 Juni 2013 di
Jakarta. Setelah tiba di Makassar, piala ini kemudian diarak keliling kota
selama bebeapa hari. Masyarakat Makassar kemudian di‘paksa’ menyambut
‘prestasi’ ini dengan memenuhi badan jalan dengan sorak-sorai penuh gembira.
Euforia sebagian warga Makassar menyambut kedatangan piala Adipura
di beberapa kecamatan menelisik kondisi kota Makassar saat ini. Di tengah
berbagai persoalan yang mendera Makassar seperti banjir, macet, sampah, dan kemiskinan,
piala Adipura justru semakin mencoreng rasa keadilan warga Makassar mengenai kebersihan
kota.
Saat ini, mungkin piala Adipura menjadi kebanggaan tersendiri bagi
pemerintah kota Makassar yang telah mengklaim berhasil menjaga kebersihan.
Tapi, tidak bagi sebagian besar warga Makassar yang pemukimannya masih dipenuhi
sampah yang berserakan dan tidak memiliki
tempat sampah atau kontainer sampah.
Tidak hanya itu, piala Adipura yang diraih saat ini sangat
kontradiksi dengan kondisi di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar
yang mengeluhkan kurangnya armada pengangkut sampah. Akibat kekurangan mobil
angkutan sampah, tak jarang kita menemui banyak sampah berserakan di kota ‘Daeng’
ini yang tidak tertampung di tempat sampah dan tidak diangkut ke pembuangan
akhir sampah.
Kota sampah
Berdasarkan hasil survey Indonesia Development Engineering
Consultant (IDEC) yang dilakukan pada April 2013, harapan warga Makassar
tentang persoalan kota yang paling mendesak untuk ditangani segera oleh pemerintah
adalah sampah (26.08 %). Persoalan kota lainnya yang juga mendesak untuk
dibenahi adalah banjir, dan kemiskinan (17.60 %), serta macet (13 78 %). Hal
ini sangat bertentangan dengan kehadiran piala Adipura.
Hasil penelitian ini mestinya menjadi alat untuk mengukur kinerja
pemerintahan dalam menciptakan kebersihan kota. Harapan warga adalah wujud persoalan
dan kegelisahan yang mendera keseharian warga Makassar. Rekaman opini publik
ini juga menjadi bukti bahwa sampah menjadi persoalan serius yang dihadapi
warga Makassar sehari-hari. Khususnya di sebagian besar kecamatan di Makassar. Utamanya
sampah yang menumpuk di kanal, selokan, dan di perumahan-perumahan warga yang
tidak memiliki tempat sampah.
Piala Adipura juga tidak sejalan dengan fakta bahwa dengan jumlah
penduduk Makassar yang mencapai 1,4 juta jiwa, warga Makassar memproduksi 570
ton sampah per hari. Sementara Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pertamanan
dan Kebersihan Kota Makassar hanya mampu mengangkut 400 ton lebih per hari ke tempat
pembuangan akhir (TPA) sampah. Selebihnya dibiarkan bertebaran di jalan,
selokan dan kanal.
Persolaan lain yang juga mempertanyakan kehadiran piala Adipura
adalah kurangnya armada pengangkut sampah yang dimiliki Pemerintah Kota
Makassar. Yang dimiliki saat ini hanya 151 armada dan 200 kontainer. Kepala
Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar, mengakui Makassar kekurangan
armada pengangkut sampah. Idealnya Makassar seharusnya memiliki armada pengangkut
sampah 200 unit. Berarti Makassar masih kekurangan 50 lebih armada angkutan
sampah. (Baca: Tribun Timur (10/6)).
Selain persoalan armada angkutan dan kontainer sampah, Pemerintah
Kota Makassar juga kesulitan mencari lahan TPA sampah. Lahan TPA sampah
bertempat di wilayah Tamangapa, Kecamatan Manggala yang seluas 14,3 hektare,
saat ini sudah tak mampu lagi menampung jumlah sampah warga Makassar yang terus
bertambah setiap harinya. Seiring pertumbuhan jumlah penduduk Makassar.
Dengan jumlah penduduk Makassar saat ini mencapai 1,4 juta jiwa,
warga Makassar menghasilkan 3.800 meter kubik per hari. Sementara itu, kapasitas
TPA Tamangapa hanya mampu menampung sampah 2.800 meter kubik per hari dengan
luas lahan 14,3 hektare. Berarti ada 1.000 meter kubik perhari sampah yang
tidak tertampung. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah serius Pemerintah Kota Makassar.
Bisa dibayangkan jika dalam sebulan tidak terangkut, maka bukan tidak mungkin Makassar
akan menjadi kota sampah. Kota yang menggiring warganya menuju kematian dengan
berbagai penyakit. Jangan pernah berharap memimpikan masyarakat yang sehat jika
kota dipenuhi dengan sampah.
Lebih parahnya lagi, salah satu ikon Kota Makassar yang kerap
mejadi pusat destinasi warga Makassar dan wisatawan asing juga menjadi tempat
pembuangan sampah warga.
Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Makassar
menggerakkan birokrasi dalam memberantas sampah. Mulai dari menghilangkan
kegiatan senam pagi setiap hari Jumat yang kemudian berganti menjadi kerja
bakti, hingga memberikan sanksi tegas bagi warga yang membuang sampah di
sembarang tempat. Dendanya hingga 50 juta rupiah. Mengacu pada Peraturan Daerah
No. 4 tahun 2011.
Berbagai fakta yang ditemukan di lapangan menelisik hati warga
Makassar mengenai piala Adipura yang kini diraih Makassar. Mengingat kondisi Makassar
yang sebentar lagi menjadi kota sampah. Piala Adipura yang terus dibangga-banggakan
oleh pemerintah justru akan mengusik rasa keadilan masyarakat yang belum
terpenuhi, yakni tinggal di kota yang bersih, nyaman dan sehat. Apalagi
retribusi sampah terus dipungut dari warga.
Pertunjukan sirkus
Arak-arakan piala Adipura merupakan tindakan berlebihan yang
dilakukan Pemerintah Kota Makassar. Aksi pamer di tengah kekotoran kota justru
membuat masyarakat semakin antipati terhadap Pemerintah. Keberhasilan
pemerintah saat ini hanya berdasarkan pada seberapa banyak penghargaan yang
diraih, bukan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan harapan masyarakat. Mental
pemimpin seperti inilah yang kemudian melahirkan pemerintah yang ingin
dilayani, bukan melayani.
Iring-iringan piala Adipura di sepanjang jalan
kota Makassar juga telah mengekploitasi para guru dan siswa. Para guru dan
siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di‘paksa’ bergembira menyambut
penghargaan yang tak sepantasnya didapatkan dengan kondisi Makassar saat ini. Euforia
piala Adipura ibarat pertunjukan sirkus yang sangat membutuhkan kegembiraan dan
tepuk tangan penonton.
No comments:
Post a Comment