Menanti Pemilihan
Presiden (Pilpres) 2014, berarti menunggu sosok
pemimpin yang mampu membawa perubahan. Perubahan yang tidak hanya
berakhir di ujung bibir saja, tapi menjelma menjadi tindakan yang konkret.
Memenuhi kebutuhan dasar rakyat Indonesia tidak cukup dengan lisan saja.
Menjadi
presiden memang tidak seperti menjadi bupati/walikota dan gubernur. Dibutuhkan
kepemimpinan yang kuat, tingkat keterkenalan membumi, dan disertai dengan
gagasan-gagasan yang tidak biasa. Olehnya itu, menanti presiden 2014, berarti
menanti seseorang yang luarbiasa dalam segala hal.
Di tengah
keterpurukan Indonesia dengan berbagai persoalan merupakan jalan terjal bagi
seseorang untuk melancong menjadi RI 1. Sebut saja pekerjaan rumah yang menanti
segera diselesaikan diantaranya, korupsi, kekerasan massa, terancamnya kaum
minoritas, dan memerangi kemiskinan yang terus terasa, tidak berbanding lurus
dengan angka pertumbuhan ekonomi beserta kalkulasi angka kemiskinan yang terus
menurun. Belum lagi, tantangan menghadirkan investasi ekonomi untuk menepis
jumlah pengangguran yang semakin meresahkan.
Dengan
berbagai hiru-pikuk politik tanah air, banyak kalangan yang pesimis Indonesia
bisa merangkak dan berdiri sebagai negara berdaulat. Apalagi berharap menjadi
negara kesejahteraan (welfare state).
Mungkin mimpi ini harus disimpan dulu. Di balik segala pesimistis terhadap
kondisi kebangsaan, harapan kini tumbuh bersama hadirnya sosok pemimpin yang
menjadi ekspektasi masyarakat Indonesia. Pemimpin sederhana, sedikit bicara,
banyak bekerja, dan yang paling utama adalah memperhatikan hak-hak mayoritas
dan minoritas penduduk tanah air. Utamanya rakyat miskin.
Siapakah
pemimpin yang ditunggu, dinanti dan diharap?. Berdasarkan hasil survey Center
for Strategis and Internasional (CSIS), Joko Widodo alias Jokowi menjadi harapan
sekaligus ancaman di Pilpres 2014. Harapan muncul pada kelompok ‘wong cilik’
yang mengalami ketidakpastian hidup. Sementara ancaman tampak bagi wajah-wajah
lama calon presiden (Capres) RI seperti Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo
Subianto, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum Partai Amanat
Nasional Hatta Rajasa.
Berdasarkan
hasil survey CSIS pada April 2014, menempatkan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi (skenario
7 nama capres) sebagai capres yang banyak dipilih (35,1 persen). Lebih tinggi
dari Prabowo Subianto yang menempati urutan kedua (16,3 persen), Aburizal
Bakrie (7,4 persen), Megawati (5,9 persen), dan Jusuf Kalla (4,8 persen).
Tiga faktor
Mungkin
Jokowi tak pernah berangan-angan apalagi berambisi menjadi presiden pada 2014
nanti. Hal ini terlihat saat sejumlah wartwan meminta tanggapannya terkait
hasil survey CSIS. Dalam berbagai kesempatan, Jokowi dengan tenang menjawab, “Sampai
saat ini saya tidak mikir.” Ketika wartawan menanyakan lagi mengenai namanya yang
digadang-gadang sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto, Jokowi
juga memilih “no comment”.
Tapi, fakta
di lapangan berbicara lain. Rakyat kemudian melahirkan seseorang pemimpin yang
memang berasal dari kebutuhan mereka. Bukan capres yang lahir dari ambisi
segelintir elit partai. Hal ini bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia
sebagai bangsa dalam menentukan pemimpinnya. Menentukan capres yang berasal
dari keinginan pemilih, bukan atas dasar keputusan partai politik atau keputusan
sebagian kecil elit penguasa yang mengangkangi kursi kekuasaan di Senayan.
Keberhasilan
Jokowi mendapatkan simpati luas dari masyarakat tidak lepas dari sikap yang ditunjukkan
saat memimpin Kota Solo beberapa tahun lalu, dan setelah terpilih menjadi Gubernur
DKI Jakarta. Kesederhanaannya mengingatkan kita tentang kondisi yang dialami
masyarakat kelas bawah. Belajar merasakan apa yang dialami rakyat dengan
blusukan adalah modal awal Jokowi membangun kedekatan dengan pemilih. Merelakan
dirinya hidup di dalam kubangan penderitaan rakyat. Turut merasakan apa yang
dirasakan masyarakat, dan juga tak takut berada dalam kekumuhan hidup rakyat
miskin.
Kedua, Jokowi
melalui Kartu Jakarta Sehat (KJS) menunjukkan sikapnya sebagai pemimpin yang
amanah dan bertanggungjawab antara lisan dan perbuatan. Apa yang dijanjikan
saat kampanye di Pemilihan Gubernur Jakarta beberapa bulan lalu dibuktikan
melalui keseriusannya menegakkan kesejahteraan melalui layanan kesehatan bagi
warga miskin. Walaupun kebijakannya dinilai sebagian kalangan sebagai
pencitraan saja, tapi Jokowi telah berada di hati rakyat Jakarta yang selama
ini tak pernah diperhatikan.
Ketiga, setiap
perkataan yang dilontarkan Jokowi melalui media massa, ibarat sebuah air yang
mengalir dari hulu ke hilir. Tanpa pikir panjang, dan tanpa banyak dipengaruhi
oleh teori public speaking, Jokowi
berbicara apa adanya di depan publik. Kepolosan dan karakternya dalam berucap
mendapatkan simpati dari masyarakat yang dimaknai sebagai sebuah kejujuran. Kepolosan
Jokowi sebagai seorang pemimpin ibarat seorang anak yang bertanya kepada ibunya
tentang hal-hal baru yang dilihat. Jokowi memang bukan anak-anak, tapi
kepolosan anak-anak bisa menjadi alasan menilai kejujuran Jokowi melalui
kepolosannya.
Kritik pemilih
Pemimpin
bangsa saat ini mesti banyak belajar kepada Jokowi mengenai konsistensi sikap
serta keberpihakan pada wong cilik, amanah/tepati janji, dan jujur dalam berucap
dan bertindak. Di tengah panggung politik pencitraan yang merebak di sejumlah
daerah di tanah air, Jokowi hadir memberikan gaya berpolitik baru yang tidak
banyak dilakukan para pemimpin saat ini.
Pilpres 2014
memang masih menyisakan waktu kurang lebih setahun lagi. Tapi gaungnya telah
terasa bahkan telah hadir di pelosok nusantara melalui televisi dan alat peraga
beberapa capres.
Walaupun Jokowi
tak menyebar baligho ataupun spanduk sebagai capres, apalagi membayar stasiun
TV nasional untuk mensosialisasikan diri, tapi Jokowi telah hadir sebagai capres
2014 harapan pemilih. Hal ini sekaligus menjadi kritik pemilih terhadap Parpol
yang mengusung Capres yang tidak sesuai dengan keinginan pemilih. Jokowi adalah
Capres yang lahir dari rahim pemilih, bukan dari sekelompok elit partai
politik.
No comments:
Post a Comment