Kini kandidat Walikota Makassar mengerucut menjadi sepuluh
pasangan. Kesepuluh kandidat yang telah resmi mendaftar di KPU melalui partai
politik adalah Supomo Guntur-Kadir Halik, Danny Pomanto-Syamsu Rizal, Apiaty
Amin Syam-Zulkifli Gani Ottoh, Tamsil Linrung-Das’ad Latief, Adil Patu-Isradi
Zainal dan Irman Yasin Limpo-Busrah Abdullah.
Sementara kandidat yang menempuh jalur independen yakni Rusdin
Abdullah-Idris Patarai, St. Muhyina Muin-Syaiful Saleh, Erwin Kallo-Hasbi Ali
dan Herman Handoko-Latif Bafadhal.
Ketidakhadiran incumbent
menjadi salah satu faktor banyaknya kandidat yang hadir. Hal ini diperkuat
dengan hasil survey IDEC pada April 2013, tak satupun elektabilitas kandidat
yang mencapai angka 30 persen sehingga pertarungan lebih terbuka bagi pendatang
baru sekalipun.
Panggung
Belakang (back stage)
Pilwali Makassar memang menyisakan banyak pertanyaan dibenak
pemilih mengenai kandidat yang akan bertarung. Olehnya itu, ada baiknya teori Dramaturgy,
Erving Goffman kita pinjam untuk melihat panggung belakang (back stage) setiap kandidat.
Goffman memandang dunia sebagai sebuah arena pertunjukan. Pilwali
Makassar seperti halnya arena pertunjukan yang memiliki cerita dan desain
sebelum pertunjukan dimulai. Cerita ini dibuat dan ditata sedemikian rupa di
tempat yang tak nampak di arena pertunjukan. Inilah yang menurut Goffman, panggung
belakang Pilwali Makassar.
Kehadiran berbagai calon yang sebelumnya tak diprediksi sebagian
kalangan, seperti Irman Yasin Limpo membuat konstalasi politik Makassar berubah
drastis. Bukan saja di tingkat elit partai politik, tapi juga di basis pemilih.
Kehadiran Irman, yang akrab disapa None, justru tidak
menguntungkan pasangan yang diusung partai Golkar yakni Supomo Guntur–Kadir Halid.
Apalagi Syahrul Yasin Limpo selaku ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan
telah menyatakan dukungan keluarganya kepada None yang merupakan adik
kandungnya.
Keputusan DPP Partai Golkar yang menetapkan Kadir Halik sebagai
pasangan Supomo Guntur dinilai banyak kalangan sebagai pemicu pecahnya suara
Golkar. Perpecahan tampak saat deklarasi
pasangan Irman Yasin Limpo-Busrah Abdullah dan Supomo Guntur-Kadir Halik yang
digelar pada saat yang bersamaan. Kehadiran beberapa elit partai Golkar pada deklarasi
yang dikenal dengan pasangan Noah mengindikasikan terpecahnya kader Golkar. Apalagi
Irman adalah tokoh sentral yang memenangkan Syahrul Yasin Limpo Pada Pilgub
2013 melalui tim pemenangannya Kapal Induk dan Sampan Induk, serta organisasi kemasyarakatan
FKPSM.
Pasangan lain yang tidak diuntungkan dari kehadiran pasangan Noah
adalah Kandidat Rusdin Abdullah (Rudal)-Idris Patarai. Pasangan ini memang jauh
hari telah bekerja di tingkat kelurahan, RW dan RT untuk menggalang dukungan. Berdasarkan
hasil Survey IDEC, elektabilitas Rudal berada pada posisi kedua setelah Supomo
Guntur. Hal ini menunjukkan kemampuan penetrasi tim sukses Rudal cukup efektif.
Hadirnya beberapa tokoh berpengaruh di Sulsel yakni,
Syahrul, Yasin Limpo, Ilham Arief Sirajuddin, dan Nurdin Halik yang berada di
belakang beberapa kandidat menjadi bukti bahwa pertarungan Pilwali Makassar
adalah pertarungan elit politik Sulsel. Hal ini juga semakin menegaskan dominasi
raja-raja kecil di daerah semakin menguat. Dengan demikian, Pilwali Makassar
hanya menjadi arena memperbesar dan mempertahankan pengaruh dan kekuasaannya
para elit politik.
Dukungan suara Rudal juga datang dari pasangannya, Idris Patarai
yang didukung salah satu tim pemenangan Syahrul pada Pilgub 2013 yakni Kapal
Induk. Idris Patarai adalah Ketua Kapal Induk Makassar pada Pilgub 2013 di bawah
kendali None. Dukungan Rudal-Idris Patarai bisa saja terbagi, karena simpatisan
Syahrul di Kapal Induk mungkin saja akan mengalihkan dukungannya ke pasangan
Noah setelah kepastian maju melalui deklarasi.
Kehadiran pendatang baru lainnya yakni Danny Pomanto-Syamsu Rizal
juga tak bisa disepelekan. Apalagi pasangan yang dikenal dengan ‘DiA’ ini telah
resmi mendapatkan dukungan partai Demokrat dan Ilham Arief Sirajuddin (Walikota
Makassar). Perlu dicatat, pada Pilgub 2013, Ilham melalui Demokrat berhasil
memenangkan suara di Makassar dengan angka 50.2 persen. Walaupun hanya berbeda
5.1 persen dengan suara Syahrul yakni 45.1 persen (sumber: LSI).
Pasangan lainnya adalah Muhyina Muin dan Syaiful Saleh juga patut
diperhitungkan. disebabkan karena pasangan ini dikenal memiliki modal yang
cukup besar. Selain itu, Syaiful Saleh merupakan salah satu tokoh senior
organisasi Islam di Sulsel, yakni Muhammadiyahyang memiliki pemilih ideologis
yang cukup besar di Makassar. Jika Syaiful Saleh memaksimalkan posisinya, maka
bukan tidak mungkin suara pasangan dengan tagline ‘Makassar Bergerak’ ini akan
mendulang kemenangan.
Pertarungan Godfather
Kehadiran tokoh besar di panggung belakang kandidat Pilwali Makassar
tidak lepas dari pertarungan merebut kekuasaan di Makassar. Penetapan Kadir
Halik sebagai pasangan Supomo tidak bisa dipisahkan dengan Nurdin Halik selaku
Koordinator Wilayah (Korwil) Pemenangan Sulawesi DPP Golkar. Kadir merupakan
adik kandung Nurdin Halik. Nurdin dikenal sebagai tokoh Golkar senior yang
memiliki pengaruh dalam kancah perpolitikan nasional.
Kandidat yang populer dengan nama pasangan DiA juga tidak lepas
dari bayang-bayang Ilham Arief Sirajuddin selaku Walikota Makassar 2 periode.
Ilham tentunya belajar pada Pilgub 2013 dengan mendukung pasangan DiA sebagai
satu-satunya kandidat yang mampu menjaga pengaruhnya di Makassar selama 10
tahun terakhir.
Syahrul Yasin Limpo juga telah membuktikan pengaruhnya yang luas
di Makassar pada Pilgub 2013 lalu. Dukungan syahrul terhadap pasangan Noah tak
bisa dipandang sebelah mata. Apalagi Sosok Irman yang dikenal dekat dengan
banyak orang dan bermasyarakat serta memiliki ide brilian bisa menjadi ancaman
serius bagi semua kandidat.
Kandidat lainnya usungan partai Keadilian Sejahtera, Tamsil
Linrung-Das’ad Latief tak bisa dianggap remeh. Loyalitas kader PKS yang juga
tak sedikit jumlahnya bisa mengantar pasangan ini memenangkan Pilwali Makassar.
Apalagi menjelang bulan Ramadan, pasangan ustaz ini mungkin menjadikan momentum
tersebut sebagai ajang mendekati pemilih melalui kegiatan keagamaan.
No comments:
Post a Comment