Monday, September 16, 2013

Siapa Kuda Troya di Pilwali Makassar?


Kontestan Pilwali Makassar 2013
Perhelatan pemilihan walikota dan wakil walikota (Pilwali) Makassar yang menghitung hari memaksa sepuluh pasangan kandidat mesti bekerja ekstra untuk memenangkan  Pilkada yang digelar 5 tahun sekali ini. Bukan hanya kontestan saja yang sibuk, mulai dari tim sukses, konsultan, dan pemilih juga saling serang untuk merebut simpati electoral kepada kandidat yang didukung.

Berbagai spekulasi muncul di detik-detik terakhir menjelang hari pencoblosan. Mulai dari saling serang antarkandidat di media massa, selebaran black campaign, dan kasus-kasus ‘lama’ yang mendera kandidat, menjadi pembicaraan hangat di warung-warung kopi. Saling serang antar kandidat tidak lain sebagai upaya kandidat tertentu untuk menggerusi suara calon yang telah menempati posisi teratas berdasarkan beberapa hasil survey lembaga survey.

Berdasarkan hasil survey Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC), pasangan yang telah menempati ‘panggung depan’ Pilwali makassar  yakni pasangan Danny-Ical (DIA) 21,1%, Supomo-Kadir (SuKa) 20,4 %, Irman-Busrah (NOAH) 11,7%, dan Tamsil-Dasad 10,9%. Sementara itu, untuk swing voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan masih berada diangka 25,3%.

Berdasarkan hasil Tracking Survey IDEC ini maka bisa dipastikan Pilwali Makassar akan berlangsung 2 putaran. Karena tak satupun kandidat yang mampu menembus elektabilitas di atas 30%.

Black Campaign
Diunggulkannya pasangan DIA oleh beberapa lembaga survey di posisi papan atas, ‘memaksa’ kandidat lainnya berpikir untuk menggerus suara kandidat yang didukung penuh oleh struktur pemerintahan di Makassar ini. Mengingat swing voters tinggal 25,3%.

Selebaran black campaign, saling serang di media cetak adalah upaya yang dilakukan oleh kandidat tertentu untuk menurunkan elektabilitas pasangan tertentu. Pengaruh black campaign tidak menguntungkan pasangan Supomo-Kadir (SuKa). Elektabiltas pasangan usungan partai Golkar ini terus turun dari bulan juni  (27,4 %) hingga jelang pemilihan di bulan September 20,4%.

Sementara pasangan DIA yang juga diserang black campign dengan isu naturalisasi atau bukan putra daerah tak cukup berpengaruh terhadap elektabilitas pasangan yang diusung oleh partai Demokrat ini.  justru pasangan ini mengalami tren kenaikan elektabilitas yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Di bulan Juni DIA berada pada posisi ke-dua dengan elektabiltas 10,2% meningkat menjadi 21, 1% menempati urutan pertama di bulan September.

Sementara itu, pasangan NOAAH yang juga diterpa black campaign dengan isu ‘dinasti politik’ dan isu korupsi mobil Toko (Moko) di Pemprov Sulsel, juga tak berpengaruh banyak terhadap tren kenaikan elektabilitas calon yang merupakan adik kandung Syahrul Yasin Limpo ini. Di  bulan Juni elektabilitas NOAH berada pada posisi enam (4,9 %) meningkat tajam menjadi 11,7% di posisi ketiga pada bulan September.

Kandidat lainnya yang juga memiliki trend kenaikan elektabiltas yang tak bisa dipandang remeh adalah pasangan Tamsil-Das’ad. Berbagai serangan black campaign mulai dari isu keterlibatan Tamsil dengan jaringan terorisme, korupsi, dan sampai menyerang pribadi tokoh Sulsel yang telah menasional ini tak berpengaruh sama sekali dengan elektabilitas pasangan ini.

Di bulan Juni, pasangan dengan tagline ‘Makassar Berdaya’ ini yang lebih popular dengan programnya 10 juta per KK (Kepala Keluarga) berada pada posisi ke-tujuh dari 10 pasangan kandidat dengan elektabilitas 1,5%. Di bulan September bergerak naik menempati urutan ke-empat dengan elektabilitas 10,9%.

Siapa Kuda Troya?
Black campaign yang selama ini ramai menghiasi media cetak lokal beberapa minggu terakhir dan selebaran yang bertebaran entah menuju ke pasang mata siapa? membuat beberapa kandidat, terutama sebagai korban menghitung efek negatif yang ditimbulkan. Apakah black campign merugikan kandidat, atau justru menguntungkan kandidat? jawabannya tergantung tim pemenangan yang mengelola serangan tersebut. Tapi satu hal yang pasti, black campaign secara etika mencederai demokrasi lokal di Makassar.

Dari empat pasangan (DIA, NOAH, SuKa, Tamsil-das’ad) yang diberondong black campaign secara massif, hanya pasangan SuKa yang mendapat efek penurunan elektabilitas yang cukup dapat dipertimbangkan. Supomo diisukan sering sakit-sakitan dan Kadir Halid isukan sebagai representase dari kakak kandungnya Nurdin Halid, membuat pasangan ini kehilangan 7% elektabilitas dari bulan Juni-September.

Di bulan Juni elektabiltas pasangan SuKa 27.4% turun menjadi 20.4% pada September. Terlalu cepat mengambil kesimpulan jika menilai kejadian ini disebabkan oleh black campaign, karena faktor pecahnya partai Golkar dengan majunya NOAH adalah juga menjadi faktor penentu turunnya elektabilitas pasangan ini.

Kandidat yang memiliki elektabilitas yang peningkatannya cukup signifikan adalah DIA, NOAH, dan Tamsil Das’ad. Ketiganya menjadi trend topik di media massa, dan ruang-ruang publik lainnya.

Pasangan NOAH bisa saja menjadi pasangan yang akan lolos di putaran kedua dengan dasar trend kenaikan elektabilitas yang diraih dalam beberapa bulan terakhir. Dukungan dari tim pemenangannya yang telah memiliki pengalaman memenangkan beberapa Pilkada di Sulsel bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi kandidat ini.

Selain itu, Kakak kandung Irman Yasin limpo, yang menjabat sebagai Gubernur Sulsel dan ketua DPD I Partai Golkar Sulsel juga menjadi faktor penentu jelang saat-saat terakhir pemilihan.

Pasangan Tamsil Das’ad juga menjadi kandidat yang masuk dalam kalkulasi politik sebagai kontestan yang harus diperhitungkan. Melalui program ‘Makassar Berdaya’ 10 juta per KK, Tamsil-Das’ad telah ‘menghipnotis’ pemilih Makassar yang pragmatis. Selain dukungan program yang memikat perhatian elektoral, Tamsil-Das’ad adalah kandidat yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera yang memiliki basis massa ideologis dan cukup diperhitungkan di Makassar.

Sementara itu, kandidat papan atas, DIA merupakan pasangan yang lebih banyak diuntungkan karena dukungan struktur pemerintahan melalui Ilham Arief Sirajuddin sebagai Walikota Makassar dan Ketua Partai Dekomrat Sulsel yang telah menanamkan pengaruh selama 10 tahun terakhir di Makassar.

Pertanyaannya kemudian adalah, siapakah kontestan Pilwali Makassar diantara empat kandidat ini yang akan menjadi ‘Kuda Troya’ di Pilwali Makassar yang mampu memanfaatkan strategi untuk memenangkan peperangan menuju putaran kedua? jawabannya, kita lihat hasilnya pada 18 September nanti.