“Kaum Ibu
harus terdidik.
…karena
dari perempuanlah orang menerima pendidikan yang pertama.
Di pangkuan
Ibu, seorang anak belajar merasa, berpikir, dan bicara.
Bagaimana
mungkin Ibu-ibu bisa mendidik anak mereka
jika mereka
sendiri tidak terdidik.
Hari
Ibu yang jatuh pada 22 Desember, adalah hari dimana setiap orang tak perlu mengucapkan;
“selamat hari Ibu”. Hari ini adalah hari dimana setiap orang yang terlahir dari
rahim seorang Ibu mesti pengingat tanggungjawab dan peranan seorang Ibu.
![]() |
| Sumber foto: Google, KFK Kompas.com |
Tak ada yang menafikan peranan Ibu dalam rumah tangga. Ibu menjadi pusat pengetahuan bagi seorang anak. Untuk itu, sebagai titik awal pemberi pengetahuan, Ibu tak hanya memiliki tugas memenuhi kebutuhan materi semata, tapi juga pengetahuan.
Pandangan
yang menilai Ibu hanya sebagai perempuan yang menyusui, merawat dan membesarkan
anak, mesti dilekatkan dengan pandangan yang menilai Ibu adalah ‘perpustakaan’
bagi anak-anaknya.
Sekolah di
rumah
Seorang ibu tidak mesti menyerahkan penuh pendidikan anaknya di sekolah, apalagi berharap sekolah mengajarkan perilaku dan etik dalam kehidupan. Tak banyak yang bisa diharap dari sekolah-sekolah formal, selain meningkatkan kapasitas intelektual dan kemampuan anak dalam mengkuantifikasi realitas melalui angka-angka. Tidak lebih. Pengetahuan tentang baik dan buruk, tata krama, dan sikap mungkin hanya didapatkan di rumah.
Seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan di sekolah. Sekolah hanya menyita waktu anak paling lama 3-5 jam, selebihnya di rumah.
Olehnya itu, Ibu menjadi guru utama dalam kehidupan anak di rumah. Di rumah interaksi Ibu dan anak tak dibatasi waktu belajar. Batas-batas hubungan anak dan Ibu tak dipisahkan oleh fungsi administrasi seperti di sekolah. Karena itu, menjadi Ibu berarti menjadi guru bagi anak-anaknya. Guru yang tidak hanya menjadi pengajar dengan batas waktu tertentu, tapi guru tanpa batas waktu dan jam mengajar.
Sekolah di rumah tidak harus ada gambar presiden dan wakil presiden yang terpasang di dinding. Sekolah di rumah juga tidak mensyaratkan ada lonceng penanda pelajaran selesai dan dimulainya pelajaran. Sekolah di rumah adalah sekolah seperti arti kata sekolah yang berarti ‘waktu luang’. Waktu yang dimanfaatkan oleh ibu untuk mendidik, dan mengajar.
Pandangan Kemendikbud yang meletakkan taruhan masa depan bangsa di sekolah, atau pada kurikulum adalah pandangan yang keliru. Taruhan terbesar pendidikan di tanah air justru berada pada keluarga di rumah. Karena itu, mengapa peranan Ibu dalam pendidikan atau mendidik anak sangat penting dan tak bisa disepelekan. Kaum Ibu harus terdidik, sehingga anak-anaknya juga menjadi terdidik.
Seorang ibu tidak mesti menyerahkan penuh pendidikan anaknya di sekolah, apalagi berharap sekolah mengajarkan perilaku dan etik dalam kehidupan. Tak banyak yang bisa diharap dari sekolah-sekolah formal, selain meningkatkan kapasitas intelektual dan kemampuan anak dalam mengkuantifikasi realitas melalui angka-angka. Tidak lebih. Pengetahuan tentang baik dan buruk, tata krama, dan sikap mungkin hanya didapatkan di rumah.
Seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan di sekolah. Sekolah hanya menyita waktu anak paling lama 3-5 jam, selebihnya di rumah.
Olehnya itu, Ibu menjadi guru utama dalam kehidupan anak di rumah. Di rumah interaksi Ibu dan anak tak dibatasi waktu belajar. Batas-batas hubungan anak dan Ibu tak dipisahkan oleh fungsi administrasi seperti di sekolah. Karena itu, menjadi Ibu berarti menjadi guru bagi anak-anaknya. Guru yang tidak hanya menjadi pengajar dengan batas waktu tertentu, tapi guru tanpa batas waktu dan jam mengajar.
Sekolah di rumah tidak harus ada gambar presiden dan wakil presiden yang terpasang di dinding. Sekolah di rumah juga tidak mensyaratkan ada lonceng penanda pelajaran selesai dan dimulainya pelajaran. Sekolah di rumah adalah sekolah seperti arti kata sekolah yang berarti ‘waktu luang’. Waktu yang dimanfaatkan oleh ibu untuk mendidik, dan mengajar.
Pandangan Kemendikbud yang meletakkan taruhan masa depan bangsa di sekolah, atau pada kurikulum adalah pandangan yang keliru. Taruhan terbesar pendidikan di tanah air justru berada pada keluarga di rumah. Karena itu, mengapa peranan Ibu dalam pendidikan atau mendidik anak sangat penting dan tak bisa disepelekan. Kaum Ibu harus terdidik, sehingga anak-anaknya juga menjadi terdidik.
Bahkan
penyair Widji Thukul pernah menulis puisi tentang ‘keagungan’ seorang Ibu.
berikut petikan puisinya:
Ibu pernah
mengusirku minggat dari rumah,
tetapi
menangis ketika aku susah.
Ibu tak
bisa memejamkan mata
bila adikku
tidak bisa tidur karena lapar.
Ibu akan
marah besar bila kami
merebut
jatah makan yang bukan hak kami.
Ibuku
memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang,
ketabahan
Ibuku mengubah rasa sayur murah menjadi sedap.
Ibu
menangis ketika aku mendapat susah,
ibu
menangis ketika aku bahagia.
Ibu menangis
ketika adikku mencuri sepeda,
Ibu
menangis ketika adikku keluar penjara.
Ibu adalah
hati yang rela menerima,
selalu
disakiti oleh anak-anaknya, penuh maaf dan ampun.
Kasih
sayang ibu adalah kilau sinar kegaiban Tuhan,
membangkitkan
haru insan dengan kebajikan.
Ibu
mengenalkan aku kepada Tuhan...
Sugata Mitra, Profesor Teknologi Pendidikan mengatakan, sekolah sudah kuno, tidak kita butuhkan lagi. Dia mengusulkan perlunya self-organized learning environment (SOLE) sebagai model pendidikan baru. Keluarga adalah salah satu model SOLE terbaik yang pernah ada dan di planet ini. Ki Hadjar Dewantara pun memandang keluarga menjadi tempat belajar terbaik, terutama bagi anak usia dini.
Sekolah di rumah berfokus pada pemberdayaan diri dan keluarga. Logika pendidikan sekolah mengajarkan: makin banyak bersekolah kita akan terdidik. Makin banyak rumah sakit kita akan semakin sehat. Makin banyak kantor polisi kita akan semakin tertib. Makin banyak tentara, senjata dan tank kita semakin aman. Semakin banyak gereja dan masjid kita semakin religius. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya: kita semakin tidak terdidik, tidak sehat, tidak tertib, tidak aman, dan tidak religius.
Perkembangan teknologi juga telah menggantikan peranan sekolah formal. Google telah banyak menggantikan peranan guru di sekolah. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di dalam rumah.
Sugata Mitra, Profesor Teknologi Pendidikan mengatakan, sekolah sudah kuno, tidak kita butuhkan lagi. Dia mengusulkan perlunya self-organized learning environment (SOLE) sebagai model pendidikan baru. Keluarga adalah salah satu model SOLE terbaik yang pernah ada dan di planet ini. Ki Hadjar Dewantara pun memandang keluarga menjadi tempat belajar terbaik, terutama bagi anak usia dini.
Sekolah di rumah berfokus pada pemberdayaan diri dan keluarga. Logika pendidikan sekolah mengajarkan: makin banyak bersekolah kita akan terdidik. Makin banyak rumah sakit kita akan semakin sehat. Makin banyak kantor polisi kita akan semakin tertib. Makin banyak tentara, senjata dan tank kita semakin aman. Semakin banyak gereja dan masjid kita semakin religius. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya: kita semakin tidak terdidik, tidak sehat, tidak tertib, tidak aman, dan tidak religius.
Perkembangan teknologi juga telah menggantikan peranan sekolah formal. Google telah banyak menggantikan peranan guru di sekolah. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di dalam rumah.
Menerabas patriarki
Ibu pasti perempuan, tidak semua perempuan adalah Ibu. Budaya yang menempatkan perempuan di dalam rumah dengan berbagai klasifikasi pekerjaannya mesti dibuang jauh-jauh.
Pandangan yang menilai perempuan sebagai kelompok yang lemah adalah hal yang keliru. Ibu sebagai perempuan lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja dibandingkan laki-laki. Laki-laki dikantoran paling banyak memakan waktu kerja 9 jam perhari. Sementara perempuan lebih, ketika berada di dalam rumah apalagi di luar rumah.
Budaya patriarki yang cenderung merugikan kaum Ibu sebagai perempuan mesti diterabas dengan perspektif gender yang melihat perempuan memiliki hak yang sama dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hanya dengan perspektif inilah kaum Ibu mampu memaksimalkan peranannya sebagai orang pertama yang memberikan pendidikan bagi anak-anaknya.
Semoga peringatan hari Ibu tidak menjadi seremonial berupa ucapan selamat. Hari Ibu mestinya tidak hanya digelar satu hari saja, karena setiap hari adalah hari Ibu. Semoga hari Ibu kali ini, para Ibu dan mereka yang terlahir di rahim seorang Ibu sadar bahwa mustahil menjadikan anak mereka terdidik, jika Ibu tidak terdidik.(*)
Penulis:
Asri Abdullah (Peneliti di Tropical Rainforest, Pengajar di Universitas Muhammadiyah
Makassar)

