Makassar kini sedang dalam arena pertarungan. Pertarungan kandidat
walikota Makassar memperebutkan kursi nomor wahid. Perang udara menjadi pilihan
berlaga dengan berbagai alat peraga.
Berbagai ruang publik menjadi pilihan sosialisasi. Tiang listrik,
pohon, tembok warga, trotoar, halte, dan lorong-lorong kompleks menjadi ruang
bagi kandidat memperkenalkan diri kepada pemilih. Bahkan tong sampah juga
menjadi pilihan sosialisasi. Spanduk, poster, umbul-umbul, stiker dan baligho
tersebar mengepung kota Makassar.
Tanpa basa-basi, seluruh kandidat menyapa pemilih Makassar dengan
berbagai senyum. Berbagai model senyum pun diperagakan di setiap media
sosialisasi kandidat. Tujuannya untuk memperkenalkan diri kepada pemilih.
Alat peraga sosialisasi seakan-akan menjadi mantra sakti bagi
kandidat agar dikenal pemilih. Kandidat menjadi sosok imaginer. Menjelma menjadi
ikon pahlawan seperti di film Hollywood, diantaranya Superman, dan Spiderman. Hadir
setiap saat ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Kisah baligho kandidat mengingatkan kita pada film fiktif yang
tidak selaras dengan fakta sosial. Dunia politik berubah wujud menjadi dunia
virtual, dan khayalan belaka. Wajar saja, persepsi publik ketika mendengar kata
politik, selalu diidentikkan dengan hal negatif dan hasrat berkuasa.
Politik baligho memang menjadi trend politik di tengah kurangnya
pemimpin yang dekat dengan masyarakat. Ramainya panggung politik Makassar oleh
orang-orang baru menjadi penyebab menjamurnya spanduk, dan baligho. Apalagi incumbent tak lagi memiliki ruang untuk
berkuasa.
Politik
Pencitraan
Maraknya sosialisasi kandidat melalui baligho dan spanduk
merupakan salah satu model pencitraan politik. Politik pencitraan mulai tumbuh
berkembang di Indonesia sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil menjadi
presiden dengan politik pencitraannya. Belajar dari SBY, Presiden terpilih
tahun 2004 ini berhasil merebut hati pemilih di Indonesia melalui politik
pencitraan yang di bangun melalui media massa. Mengingat jangkauannya terhadap
pemilih sangat luas.
SBY berhasil merebut hati pemilih tanpa bertemu langsung dengan konstituen.
Hal inilah yang menjadi pelajaran penting bagi para politisi dalam merebut
kursi kekuasaan. Walaupun setelah terpilih, SBY tak bisa menggunakan politik
pencitraan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Karena memenuhi harapan
rakyat bukan sesuatu yang abstrak tapi konkret. Politik pencitraan kini menjadi
pilihan banyak orang yang tak memiliki modal sosial untuk menjadi pemimpin.
Fenomena ini ini banyak menyasar artis layar kaca.
Belajar dari
Jokowi
Sejak terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI mengalahkan calon
petahana Fauzi Bowo, membuat politik pencitraan kemudian ditinggalkan dan
dievaluasi berbagai kalangan. Jokowi berhasil merebut hati pemilih tanpa perlu
memasang begitu banyak baligho dan spanduk.
Gaya kampanye Jokowi tak hanya mampu merebut hati pemilih DKI
Jakarta saja, tapi seluruh pemilih di nusantara. Terbukti beberapa lembaga
survey mengunggulkan Jokowi dalam hasil surveynya sebagai calon presiden alternatif
2014.
Salah satunya, Pol-Tracking Institute menempatkan Jokowi sebagai
Capres alternatif 2014. Jokowi mendapatkan nilai tertinggi dari aspek
integritas, visioner, leadership skill,
gagasan, responsif, pengalaman prestasi, keberanian memutuskan, komunikasi
publik, serta penerimaan partai dan publik.
Populernya Jokowi di pelosok nusantara tidak lepas dari peran
media massa. Jokowi berhasil menjadi opinion
leader di beberapa media nasional. Elektronik maupun cetak. Selain blusukan
yang mejadi ciri khas mantan Walikota Solo dua periode itu, hal yang menjadi kepribadian
Jokowi sebagai pemimpin juga tak lepas dari penilaian pemilih. Sederhana, polos,
dan jujur adalah karakter Jokowi jika tampil di TV. Karakter pemimpin yang sangat
langka saat ini.
Bukan hanya pemilih yang berhasil dihipnotis oleh Jokowi. Hampir
semua kandidat yang akan bertarung di Pilkada. Kandidat Ramai-ramai menjadikan Jokowi
sebagai patron dalam kampanye. Gaya bulusukan Jokowi mendadak menjadi budaya politik
bagi para pemburu kuasa.
Keberhasilan Jokowi berada di hati pemilih, bukanlah melalui
politik pencitraan. Alat peraga Jokowi saat kampanye di Pilkada DKI tidak
begitu banyak dibandingkan calon lainnya. Bahkan iklan Jokowi di TV juga tak
sering kita jumpai.
Pilkada DKI mestinya menjadi pelajaran penting bagi kandidat
Walikota Makassar. Walupun pemilih Makassar berbeda dengan DKI Jakarta,
pelajaran pertama yang bisa dipetik adalah sosialisasi melalui alat peraga tak
akan mampu membangun kedekatan dengan pemilih. Apalagi memenuhi harapan
masyarakat. Dampaknya hanya merusak keindahan kota dan menguras banyak biaya.
Kedua, biaya politik dapat diminimalisir melalui politik gaya
Jokowi dalam mendekati pemilih. Politik berbiaya tinggi justru membuat kandidat
tersandera oleh pendonor dana kampanye. Selain itu, pilihan Jokowi dalam
bersosialisasi dengan pemilih membangun iklim demokrasi yang lebih dekat dengan
konstituen.
Ketiga, kepemimpinan Jokowi sebelum terpilih dan setelah terpilih
menggambarkan sosok pemimpin yang melayani. Bukan dilayani. Jokowi berhasil menerabas
stigma tentang pemimpin yang jauh dengan masyarakat kelas bawah dan tak biasa
bekerja dalam kekumuhan hidup masyarakat.
Calon Walikota Makassar mestinya banyak belajar kepada Jokowi.
Belajar bukan hanya pada metode bisa terpilih dan disenangi oleh pemilih saja.
Tapi belajar menjadi pemimpin yang sederhana, polos, jujur, dekat dengan
masyarakat, dan melayani masyarakat. Bukan dilayani.
Kita paham Jokowi tidak mungkin akan mencalonkan diri di Pilwali
Makassar yang akan di gelar September 2013 nanti. Tapi setidaknya, sosok kandidat
yang mendekati pribadi Jokowi ada diantara puluhan kandidat yang ada. Bukan
dalam arti blusukan karena ingin mendulang suara untuk menang, tapi blusukan
karena memang seharusnya blusukan untuk mendegar dan memenuhi harapan pemilih.
Pemilih Jakarta memang berbeda dari pemilih Makassar. Tapi, kita
bisa melihat kesamaan karakter pemilihnya yang sama-sama merupakan pemilih
urban. Sama-sama memiliki persoalan kota seperti sampah, macet, banjir, dan
kemiskinan. Bedanya, Makassar saat ini tengah menunggu menjadi kota sampah.
Sampah dengan beribu wajah.
No comments:
Post a Comment