Sunday, May 12, 2013

Geng Motor dan Pecandu Kekerasan


Beberapa bulan terakhir Makassar diselimuti kekerasan geng motor. Klub motor yang dulunya hanya tempat menyalurkan hobi, kini menjelma menjadi organisasi yang memproduksi kekerasan. Mulai dari penguasaan atas fasilitas publik, pengrusakan fasilitas umum hingga kekerasan terhadap individu. berkuasa atas orang lain melalui simbol kelompok mencirikan sifat geng motor yang marak disaksikan di media massa.

Kekerasan geng motor Makassar dimulai sejak tahun 2012. Pada April 2012, Ibrahim, aktivis Pemuda Pancasila meninggal akibat dikeroyok geng motor di jalan Sungai Saddang. Juli 2012, kepala Kepolisian Sektor Kota Makassar, Komisaris Irwan Limba diserang orang yang diduga sebagai anggota geng motor. Irwan terluka kena anak panah.

Di tahun 2013, kekerasan geng motor terus berlanjut dan mengancam warga. Pada Januari 2013, dua pelajar yang melintas di jalan Abdullah Daeng Sirua dianiaya sejumlah anggota geng motor sehingga mengalami luka serius. Februari 2013, anggota Brimob Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Briptu Yusriadi, diserang sekelompok orang yang diduga sebagai anggota geng motor di Panakukang. Yusriadi mengalami luka di bagian tangan terkena sabetan senjata tajam.

Gayung bersambut, Kekerasan di tahun ini terus bertambah, April 2013, Wartawan Fajar TV, Harun Rasyid diserang puluhan geng motor dengan menggunakan anak panah. Masih di bulan yang sama, sekelompok geng motor terlibat bentrok dengan warga di kawasan jalan Andalas. Geng motor membakar satu sepeda motor milik warga. Selain melakukan pembakaran, kawanan geng motor juga menyerang warga dengan senjata tajam.

Pada April 2013, geng motor kembali melakukan aksinya dengan merampas dompet warga Makassar, sartika, 23 tahun. Dan, Anus 20 tahun motor miliknya dibakar seklompok pemuda yang diduga kuat sebagai anggota geng motor.

Lebih parahnya lagi, pada April lalu, sekelompok geng motor membakar bus komersil antardaerah, Bintang Prima, senilai miliaran rupiah di jalan Perintis Kemerdekaan. Tindak kekerasan terkahir yang dilakukan oleh kawanan geng motor adalah dengan  menyerang kembali wartawan.

Muhammad Ardiansyah, 23 tahun, Kontributor Trans TV bersama rekan jurnalis media lainnya diserang sekelompok geng motor dengan anak panah dan benda tajam. Ardi mengalami luka tikam di bagian paha dan dilarikan ke rumah sakit. Sementara rekannya terkena anak panah, beruntung jaket yang digunakan tebal sehingga tidak melukai tubuh Endi.

Berbagai aksi geng motor menyulut kemarahan warga Makassar. Termasuk para jurnalis di Makassar. Protes para jurnalis dilayangkan ke Polda Sulselbar yang seakan melakukan pembiaran terhadap pelaku kekerasan.

Pecandu kekerasan
Benarkah geng motor di Makassar merupakan pecandu kekerasan?. Jawabannya ya. Mengingat berbagai aksi kekerasan yang dilakukan beberapa tahun terakhir. Aksinya pun membuat warga Makassar resah. Apalagi aparat juga menjadi korban kekerasan geng motor.

Kini makassar tengah menjelma menjadi kota kekerasan. Kota dengan amuk massa yang tak sedikit mengambil nyawa dan korban. Kota yang memiliki aturan hukum kini berubah menjadi hutan rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Pemerintah dan aparat dibuat bulan-bulanan oleh geng motor akibat protes warga. Aparat yang seharusnya sebagai pelindung, tak mampu menciptakan keamanan bagi warga.

Keresahan, ketakutan dan intimidasi psikologis yang dilakukan oleh geng motor merupakan cermin bahwa geng motor menjadi kelompok pecandu kekerasan. Kelompok yang senang dengan kekerasan. Hasrat berkuasa atas orang lain mewujud melalui aksi-aksinya. Kekerasan menjadi kebiasaan untuk memuaskan hasrat berkuasa atas orang lain.

Kekerasan geng motor tidak hanya melukai korbannya saja. Kini menjadikan warga Makassar menjadi korban kekerasan simbolik yang masuk ke ruang-ruang keluarga melalui televisi (Bourdieu, Theory of symbolic power). Kekerasan geng motor menjadi ancaman psikologis. Kekerasan menjadi sesuatu yang lumrah. Simbol-simbol kelompok menjadi identitas menunjukkan eksistensi individu melalui jalan kekerasan. Seakan dengan kekerasan kelompok bisa menjadi eksis.

Maraknya kekerasan geng motor yang terus berlanjut merupakan bukti ketidaktegasan aparat penegak hukum dan pemerintah menindak pelaku kekerasan. Seakan dibiarkan terjadi. Masyarakat kemudian dididik dengan kekerasan. Hukum tak berdaya dihadapan geng motor.

Selain kekerasan fisik, geng motor juga telah melahirkan kekerasan struktural yang melibatkan pemerintah dan aparat penegak hukum (Johan Galtung, 1992). Kekerasan struktural terus berlangsung seiring tidak adanya langkah serius yang dilakukan aparat dan pemerintah dalam menindak pelaku kekerasan.

Jika Makassar terus berada dalam ‘selimut’ kekerasan kelompok geng motor, dan pemerintah seakan melakukan pembiaran, maka wajarlah jika masyarakat nantinya akan menjadi pecandu kekerasan. Kekerasan yang timbul dari ketidakpercayaan hukum yang akan melahirkan kebencian.

Ekspresi kebencian warga Makassar bisa saja berujung pada kekerasan. Warga akan melakukan perlawanan terhadap geng motor seperti yang terjadi di jalan Andalas beberapa bulan lalu. Hal ini menunjukkan lemahnya hukum dapat melahirkan kekerasan-kekerasan baru dalam masyarakat. Hukum rimba kemudian menjadi panglima. Eksistensi kelompok sosial diukur melalui seberapa kuat seseorang dan seberapa banyak kekerasan yang telah dilakukan.

Fenomena geng motor dan kekerasan bisa jadi merupakan produk dari sistem sosial yang berlangsung secara tidak adil. Bentukan dari ekspresi frustasi sosial di tengah banyaknya persoalan yang mendera masyarakat. Tanpa melahirkan solusi dan jalan keluar.

Jika kekerasan kelompok terhadap individu terus dibiarkan terjadi, bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik horizontal yang lebih besar dalam bentuk perang antarkelompok masyarakat. Bahkan bisa menyulut kerusuhan sosial. Kita tidak berharap hal ini terjadi, tapi setidaknya pelajaran geng motor mengingatkan kita sebuah cerita tentang ‘kota gagal’. Kota yang gagal menciptakan keamanan dan kenyamanan hidup bagi warganya.

No comments:

Post a Comment