Beberapa
bulan terakhir Makassar diselimuti kekerasan geng motor. Klub motor yang
dulunya hanya tempat menyalurkan hobi, kini menjelma menjadi organisasi yang
memproduksi kekerasan. Mulai dari penguasaan atas fasilitas publik, pengrusakan
fasilitas umum hingga kekerasan terhadap individu. berkuasa atas orang lain melalui
simbol kelompok mencirikan sifat geng motor yang marak disaksikan di media
massa.
Kekerasan
geng motor Makassar dimulai sejak tahun 2012. Pada April 2012, Ibrahim, aktivis
Pemuda Pancasila meninggal akibat dikeroyok geng motor di jalan Sungai Saddang.
Juli 2012, kepala Kepolisian Sektor Kota Makassar, Komisaris Irwan Limba
diserang orang yang diduga sebagai anggota geng motor. Irwan terluka kena anak
panah.
Di tahun
2013, kekerasan geng motor terus berlanjut dan mengancam warga. Pada Januari
2013, dua pelajar yang melintas di jalan Abdullah Daeng Sirua dianiaya sejumlah
anggota geng motor sehingga mengalami luka serius. Februari 2013, anggota
Brimob Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Briptu Yusriadi, diserang
sekelompok orang yang diduga sebagai anggota geng motor di Panakukang. Yusriadi
mengalami luka di bagian tangan terkena sabetan senjata tajam.
Gayung
bersambut, Kekerasan di tahun ini terus bertambah, April 2013, Wartawan Fajar
TV, Harun Rasyid diserang puluhan geng motor dengan menggunakan anak panah. Masih
di bulan yang sama, sekelompok geng motor terlibat bentrok dengan warga di
kawasan jalan Andalas. Geng motor membakar satu sepeda motor milik warga.
Selain melakukan pembakaran, kawanan geng motor juga menyerang warga dengan
senjata tajam.
Pada April
2013, geng motor kembali melakukan aksinya dengan merampas dompet warga Makassar,
sartika, 23 tahun. Dan, Anus 20 tahun motor miliknya dibakar seklompok pemuda
yang diduga kuat sebagai anggota geng motor.
Lebih
parahnya lagi, pada April lalu, sekelompok geng motor membakar bus komersil
antardaerah, Bintang Prima, senilai miliaran rupiah di jalan Perintis Kemerdekaan.
Tindak kekerasan terkahir yang dilakukan oleh kawanan geng motor adalah dengan menyerang kembali wartawan.
Muhammad
Ardiansyah, 23 tahun, Kontributor Trans TV bersama rekan jurnalis media lainnya
diserang sekelompok geng motor dengan anak panah dan benda tajam. Ardi mengalami
luka tikam di bagian paha dan dilarikan ke rumah sakit. Sementara rekannya
terkena anak panah, beruntung jaket yang digunakan tebal sehingga tidak melukai
tubuh Endi.
Berbagai
aksi geng motor menyulut kemarahan warga Makassar. Termasuk para jurnalis di Makassar.
Protes para jurnalis dilayangkan ke Polda Sulselbar yang seakan melakukan
pembiaran terhadap pelaku kekerasan.
Pecandu kekerasan
Benarkah geng
motor di Makassar merupakan pecandu kekerasan?. Jawabannya ya. Mengingat
berbagai aksi kekerasan yang dilakukan beberapa tahun terakhir. Aksinya pun
membuat warga Makassar resah. Apalagi aparat juga menjadi korban kekerasan geng
motor.
Kini
makassar tengah menjelma menjadi kota kekerasan. Kota dengan amuk massa yang
tak sedikit mengambil nyawa dan korban. Kota yang memiliki aturan hukum kini berubah
menjadi hutan rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Pemerintah dan aparat
dibuat bulan-bulanan oleh geng motor akibat protes warga. Aparat yang
seharusnya sebagai pelindung, tak mampu menciptakan keamanan bagi warga.
Keresahan,
ketakutan dan intimidasi psikologis yang dilakukan oleh geng motor merupakan
cermin bahwa geng motor menjadi kelompok pecandu kekerasan. Kelompok yang
senang dengan kekerasan. Hasrat berkuasa atas orang lain mewujud melalui aksi-aksinya.
Kekerasan menjadi kebiasaan untuk memuaskan hasrat berkuasa atas orang lain.
Kekerasan
geng motor tidak hanya melukai korbannya saja. Kini menjadikan warga Makassar
menjadi korban kekerasan simbolik yang masuk ke ruang-ruang keluarga melalui
televisi (Bourdieu, Theory of symbolic
power). Kekerasan geng motor menjadi ancaman psikologis. Kekerasan menjadi
sesuatu yang lumrah. Simbol-simbol kelompok menjadi identitas menunjukkan
eksistensi individu melalui jalan kekerasan. Seakan dengan kekerasan kelompok bisa
menjadi eksis.
Maraknya
kekerasan geng motor yang terus berlanjut merupakan bukti ketidaktegasan aparat
penegak hukum dan pemerintah menindak pelaku kekerasan. Seakan dibiarkan
terjadi. Masyarakat kemudian dididik dengan kekerasan. Hukum tak berdaya dihadapan
geng motor.
Selain
kekerasan fisik, geng motor juga telah melahirkan kekerasan struktural yang
melibatkan pemerintah dan aparat penegak hukum (Johan Galtung, 1992). Kekerasan
struktural terus berlangsung seiring tidak adanya langkah serius yang dilakukan
aparat dan pemerintah dalam menindak pelaku kekerasan.
Jika Makassar
terus berada dalam ‘selimut’ kekerasan kelompok geng motor, dan pemerintah
seakan melakukan pembiaran, maka wajarlah jika masyarakat nantinya akan menjadi
pecandu kekerasan. Kekerasan yang timbul dari ketidakpercayaan hukum yang akan melahirkan
kebencian.
Ekspresi
kebencian warga Makassar bisa saja berujung pada kekerasan. Warga akan
melakukan perlawanan terhadap geng motor seperti yang terjadi di jalan Andalas
beberapa bulan lalu. Hal ini menunjukkan lemahnya hukum dapat melahirkan
kekerasan-kekerasan baru dalam masyarakat. Hukum rimba kemudian menjadi
panglima. Eksistensi kelompok sosial diukur melalui seberapa kuat seseorang dan
seberapa banyak kekerasan yang telah dilakukan.
Fenomena
geng motor dan kekerasan bisa jadi merupakan produk dari sistem sosial yang berlangsung
secara tidak adil. Bentukan dari ekspresi frustasi sosial di tengah banyaknya
persoalan yang mendera masyarakat. Tanpa melahirkan solusi dan jalan keluar.
Jika kekerasan
kelompok terhadap individu terus dibiarkan terjadi, bukan tidak mungkin akan
menimbulkan konflik horizontal yang lebih besar dalam bentuk perang
antarkelompok masyarakat. Bahkan bisa menyulut kerusuhan sosial. Kita tidak berharap
hal ini terjadi, tapi setidaknya pelajaran geng motor mengingatkan kita sebuah cerita
tentang ‘kota gagal’. Kota yang gagal menciptakan keamanan dan kenyamanan hidup
bagi warganya.
No comments:
Post a Comment