Ahmad
Fathanah kini mendadak populer setelah KPK menangkapnya di hotel Le Meredien, Jakarta
bersama seorang wanita, Maharani. KPK menahannya terkait kasus suap kuota
daging sapi yang sebelumnya menyeret orang nomor wahid di Partai Keadilan
Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI).
Berbeda
dengan kasus korupsi lainnya, Fathanah menjadi perhatian publik karena
tertangkap sedang berduaan dengan seorang gadis muda di dalam kamar hotel. Sejak
namanya mencuat di media, sejumlah artis dan perempuan ‘cantik’ ikut terseret di
pusaran kasusnya.
Sebanyak 45
perempuan diduga menerima aliran dana dari Fathanah. Beberapa telah dipangil
KPK untuk diperiksa. Salah satunya adalah artis ternama Ayu Ashari. Ia diduga
menerima aliran dana suap kuota daging sapi yang diberikan Fathanah. PPATK
berhasil menelusuri transaksi keuangan Fathanah mengalir ke puluhan perempuan.
Termasuk salah seorang mahasiswi Universitas Hasanuddin yang memiliki tabungan hingga 2 miliar yang ditengarai memiliki
hubungan dengan Fathanah.
Bukan Romantisme
Sejak awal
penangkapan Fathanah pada 29 Januari 2013, KPK menyita barang bukti senilai Rp
1 miliar. Uang itu diduga sebagai uang suap dari perusahaan PT Indoguna untuk
Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS yang saat ini menjadi tersangka kasus
suap kuota impor daging sapi.
Mengalirnya
uang Fathanah ke sejumlah perempuan membuka mata publik mengenai kotak pandora
hubungannya dengan sejumlah perempuan termasuk beberapa artis. Selain rupiah, Fathanah
juga memberi mobil, perhiasan, jam tangan, dan sejumlah barang perhiasan
lainnya. Berkat Fathanah, beberapa minggu terakhir, KPK ramai dikunjungi
perempuan cantik.
Banyaknya
perempuan yang dekat dengan dengan Fathanah, apakah mengindikasikan Fathanah
sebagai sosok laki-laki romantis yang banyak menarik perhatian perempuan? Jawabannya
tidak. Berbondong-bondongnya sejumlah perempuan ke KPK mengembalikan uang pemberian
Fathanah membuktikan uang menjadi pemikat bagi perempuan di sekelilingnya.
Fathanah bukanlah sosok pemikat hati perempuan, seperti sosok Presiden pertama
Republik Indonesia.
Romantisme Fathanah
terletak pada uang. Ia berhasil mengungkap halaman belakang kehidupan beberapa
artis di tanah air, dan juga membuka ‘kotak hitam’ sumber penghasilan artis
selain dari layar kaca. Fathanah dan ‘perempuan-perempuannya’ memang menarik
banyak mata di dunia maya. Daya pikatnya karena membawa perempuan-perempuan ‘cantik’
dalam kasusnya.
Lebih
parahnya lagi, setelah pengakuan Maharani di depan majelis hakim mengenai hubungannya
dengan Fathanah saat dihotel, justru menambah catatan hitam prostitusi
terorganisir dan terselubung di tanah air.
Cerita Fathanah
mungkin bukan kisah pertama di negeri ini yang mengungkap skandal seks pejabat.
Tapi, Fathanah kembali mengingatkan skandal
jual-beli perempuan di kalangan pejabat di pusat maupun di daerah.
Makelar Politik
Selain
mengungkap kehidupan gelap dunia para aktor film sinetron dan aktor dunia hiburan
lainnya, melalui tangan Fathanah, uang suap PT Indoguna ditujukan kepada LHI. Fathanah
menjadi jembatan yang menghubungkan dunia politik dan bisnis. Perselingkuhan
dunia politik dan bisnis kembali ditegaskan Fathanah.
Identitas Fathanah
yang bukan kader Partai Keadilan Sejahtera tapi dekat dengan beberapa pimpinan
partai bulan sabit kembar ini menjadi pertanyaan yang menelisik hubungan partai
dan orang di luar partai. Bahkan Fathanah bukan pertama kali menjadi perantara
proyek besar. Fathanah juga disebut menjadi bagian dari kasus korupsi Bank Jawa
Barat (BJB) yang sementara ditangani Kejaksaan Agung.
Betenggernya
nama Fathanah dipelbagai proyek besar di tanah air, membuat dirinya sebagai
sosok makelar. Khususnya makelar politik. Profesi sepertinya mungkin banyak di pemerintahan
yang menjadi perpanjangan tangan memuluskan sejumlah proyek pemerintahan ke beberapa
pengusaha. Komitmen fee menjadi daya pikat karena dapat menggaet rupiah yang
tidak sedikit jumlahnya. Olehnya itu, profesi makelar menjadi pekerjaan yang prospek.
Cukup dengan modal jaringan ke pusat kekuasaan dapat meraih keuntungan hingga
ratusan juta bahkan miliaran rupiah.
Di
pemeritahan, profesi makelar dibutuhkan untuk menghindari aturan yang tidak
memperbolehkan pemerintah sendiri sebagai pelaksana proyek. Ribetnya mekanisme
birokrasi juga menjadi salah satu alasan makelar banyak digunakan.
Makelar
banyak bekerja di sektor ekonomi, hukum, pendidikan, dan politik. Khusus
makelar politik, tumbuh subur menjelang Pilkada di beberapa daerah. Termasuk
menjelang Pilpres dan pemilihan legislatif 2014.
Menjelang
Pilpres dan Pemilu legislatif 2014, sosok Fathanah menjadi incaran partai
politik dalam mengerus APBD dan APBN melalui berbagai proyek untuk kepentingan
dana kampanye. Contohnya, pada pemilihan Gubernur Sulsel 2013 Fathanah menjadi
makelar antara calon Gubernur Sulsel dalam pembayaran mahar ke partai yang
kemudian diteruskan ke DPP PKS.
Makelar
politik sekelas Fathanah memang bukan makelar kelas ‘teri’ yang biasa nongkrong
di pemerintahan. Tapi makelar papan atas yang justru memiliki pengaruh besar
terhadap partai politik dibandingkan kader partai. Tidak hanya itu, makelar politik
juga berperan aktif menentukan tarif/mahar jika ada kandidat yang ingin
menggunakan partai sebagai kendaraan untuk melancong menuju kekuasaan.
Pengaruh
makelar politik tak bisa disepelekan. Makelar menjadikan partai sebagai arena bisnis
dan juga serupa lembaga bisnis. Wajar saja jika partai saat ini menjelma
menjadi perusahaan. Bukan sebagai lembaga politik. Jangan heran partai hanya
mengutamakan keuntungan material dibandingkan pengabdian terhadap masyarakat.
Hal inilah yang kemudian melahirkan politik berbiaya tinggi/politik
transaksional.
Makelar
politik dan Fathanah bukan pertama kali diungkap media. Tapi pelajaran Fathanah
bagi bangsa adalah pelajaran tentang bagaimana partai politik berlomba mencari dana
kampanye di APBN dan APBD melalui sejumlah proyek untuk Pilpres dan pemilihan legislatif
2014. Setelah partai berlambang mercy dan partai bulan sabit kembar mengingatkan
publik bahwa APBN adalah tempat aman mencari dana kampanye bagi partai politik,
entah partai apalagi yang akan merampok uang rakyat melalui APBN?.
No comments:
Post a Comment