Friday, May 31, 2013

Fathanah, Perempuan, dan Makelar Politik


Ahmad Fathanah kini mendadak populer setelah KPK menangkapnya di hotel Le Meredien, Jakarta bersama seorang wanita, Maharani. KPK menahannya terkait kasus suap kuota daging sapi yang sebelumnya menyeret orang nomor wahid di Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI).

Berbeda dengan kasus korupsi lainnya, Fathanah menjadi perhatian publik karena tertangkap sedang berduaan dengan seorang gadis muda di dalam kamar hotel. Sejak namanya mencuat di media, sejumlah artis dan perempuan ‘cantik’ ikut terseret di pusaran kasusnya.

Sebanyak 45 perempuan diduga menerima aliran dana dari Fathanah. Beberapa telah dipangil KPK untuk diperiksa. Salah satunya adalah artis ternama Ayu Ashari. Ia diduga menerima aliran dana suap kuota daging sapi yang diberikan Fathanah. PPATK berhasil menelusuri transaksi keuangan Fathanah mengalir ke puluhan perempuan. Termasuk salah seorang mahasiswi Universitas Hasanuddin yang memiliki tabungan  hingga 2 miliar yang ditengarai memiliki hubungan dengan Fathanah.

Bukan Romantisme
Sejak awal penangkapan Fathanah pada 29 Januari 2013, KPK menyita barang bukti senilai Rp 1 miliar. Uang itu diduga sebagai uang suap dari perusahaan PT Indoguna untuk Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS yang saat ini menjadi tersangka kasus suap kuota impor daging sapi.

Mengalirnya uang Fathanah ke sejumlah perempuan membuka mata publik mengenai kotak pandora hubungannya dengan sejumlah perempuan termasuk beberapa artis. Selain rupiah, Fathanah juga memberi mobil, perhiasan, jam tangan, dan sejumlah barang perhiasan lainnya. Berkat Fathanah, beberapa minggu terakhir, KPK ramai dikunjungi perempuan cantik.

Banyaknya perempuan yang dekat dengan dengan Fathanah, apakah mengindikasikan Fathanah sebagai sosok laki-laki romantis yang banyak menarik perhatian perempuan? Jawabannya tidak. Berbondong-bondongnya sejumlah perempuan ke KPK mengembalikan uang pemberian Fathanah membuktikan uang menjadi pemikat bagi perempuan di sekelilingnya. Fathanah bukanlah sosok pemikat hati perempuan, seperti sosok Presiden pertama Republik Indonesia.

Romantisme Fathanah terletak pada uang. Ia berhasil mengungkap halaman belakang kehidupan beberapa artis di tanah air, dan juga membuka ‘kotak hitam’ sumber penghasilan artis selain dari layar kaca. Fathanah dan ‘perempuan-perempuannya’ memang menarik banyak mata di dunia maya. Daya pikatnya karena membawa perempuan-perempuan ‘cantik’ dalam kasusnya.

Lebih parahnya lagi, setelah pengakuan Maharani di depan majelis hakim mengenai hubungannya dengan Fathanah saat dihotel, justru menambah catatan hitam prostitusi terorganisir dan terselubung di tanah air.

Cerita Fathanah mungkin bukan kisah pertama di negeri ini yang mengungkap skandal seks pejabat. Tapi,  Fathanah kembali mengingatkan skandal jual-beli perempuan di kalangan pejabat di pusat maupun di daerah.

Makelar Politik
Selain mengungkap kehidupan gelap dunia para aktor film sinetron dan aktor dunia hiburan lainnya, melalui tangan Fathanah, uang suap PT Indoguna ditujukan kepada LHI. Fathanah menjadi jembatan yang menghubungkan dunia politik dan bisnis. Perselingkuhan dunia politik dan bisnis kembali ditegaskan Fathanah.

Identitas Fathanah yang bukan kader Partai Keadilan Sejahtera tapi dekat dengan beberapa pimpinan partai bulan sabit kembar ini menjadi pertanyaan yang menelisik hubungan partai dan orang di luar partai. Bahkan Fathanah bukan pertama kali menjadi perantara proyek besar. Fathanah juga disebut menjadi bagian dari kasus korupsi Bank Jawa Barat (BJB) yang sementara ditangani Kejaksaan Agung.

Betenggernya nama Fathanah dipelbagai proyek besar di tanah air, membuat dirinya sebagai sosok makelar. Khususnya makelar politik. Profesi sepertinya mungkin banyak di pemerintahan yang menjadi perpanjangan tangan memuluskan sejumlah proyek pemerintahan ke beberapa pengusaha. Komitmen fee menjadi daya pikat karena dapat menggaet rupiah yang tidak sedikit jumlahnya. Olehnya itu, profesi makelar menjadi pekerjaan yang prospek. Cukup dengan modal jaringan ke pusat kekuasaan dapat meraih keuntungan hingga ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Di pemeritahan, profesi makelar dibutuhkan untuk menghindari aturan yang tidak memperbolehkan pemerintah sendiri sebagai pelaksana proyek. Ribetnya mekanisme birokrasi juga menjadi salah satu alasan makelar banyak digunakan.

Makelar banyak bekerja di sektor ekonomi, hukum, pendidikan, dan politik. Khusus makelar politik, tumbuh subur menjelang Pilkada di beberapa daerah. Termasuk menjelang Pilpres dan pemilihan legislatif 2014.

Menjelang Pilpres dan Pemilu legislatif 2014, sosok Fathanah menjadi incaran partai politik dalam mengerus APBD dan APBN melalui berbagai proyek untuk kepentingan dana kampanye. Contohnya, pada pemilihan Gubernur Sulsel 2013 Fathanah menjadi makelar antara calon Gubernur Sulsel dalam pembayaran mahar ke partai yang kemudian diteruskan ke DPP PKS.

Makelar politik sekelas Fathanah memang bukan makelar kelas ‘teri’ yang biasa nongkrong di pemerintahan. Tapi makelar papan atas yang justru memiliki pengaruh besar terhadap partai politik dibandingkan kader partai. Tidak hanya itu, makelar politik juga berperan aktif menentukan tarif/mahar jika ada kandidat yang ingin menggunakan partai sebagai kendaraan untuk melancong menuju kekuasaan.

Pengaruh makelar politik tak bisa disepelekan. Makelar menjadikan partai sebagai arena bisnis dan juga serupa lembaga bisnis. Wajar saja jika partai saat ini menjelma menjadi perusahaan. Bukan sebagai lembaga politik. Jangan heran partai hanya mengutamakan keuntungan material dibandingkan pengabdian terhadap masyarakat. Hal inilah yang kemudian melahirkan politik berbiaya tinggi/politik transaksional.

Makelar politik dan Fathanah bukan pertama kali diungkap media. Tapi pelajaran Fathanah bagi bangsa adalah pelajaran tentang bagaimana partai politik berlomba mencari dana kampanye di APBN dan APBD melalui sejumlah proyek untuk Pilpres dan pemilihan legislatif 2014. Setelah partai berlambang mercy dan partai bulan sabit kembar mengingatkan publik bahwa APBN adalah tempat aman mencari dana kampanye bagi partai politik, entah partai apalagi yang akan merampok uang rakyat melalui APBN?.

No comments:

Post a Comment