![]() |
| SBY dan Hatta Rajasa menyaksikan perkawinan putra-putri mereka |
SEJAK KEBIJAKAN
DESENTRALISASI dan otonomi daerah diberlakukan di Indonesia, oligarki kekuasaan
tumbuh subur di beberapa daerah. Para keluarga calon petahana, bupati/walikota,
anggota DPR, DPD, dan DPRD ramai-ramai ikut pemilihan legislatif dan ajang
pemilihan kepala daerah.
Anak, istri, adik dan kakak
para pemegang kekuasaan ikut bertarung dalam arena politik. Jabatan politik seakan
menjadi jabatan keluarga yang diserahkan oleh kepala keluarga. Tanpa
mempertimbangkan rakyat sebagai penentu kemenangan.
Oligarki Kekuasaan banyak
melahirkan dinasti politik. Politik dinasti yang berlangsung di beberapa daerah
pun menjadi salah satu persoalan serius dalam membangun konsolidasi demokrasi
di tanah air.
Data Kementerian Dalam Negeri
tahun 2013 mencatat, sejak otonomi daerah diberlakukan, terdapat 57 kepala
daerah yang membangun dinasti politik di beberapa daerah di Indonesia. Dari 57 kepala
daerah yang mencalonkan para anggota keluarganya dalam pesta demokrasi, hanya
17 diantaranya kalah di pertarungan politik. Selebihnya, menjadi pemenang mengganti
kekuasaan keluarganya.
Di banyak daerah di
Indonesia, dinasti politik semakin menunjukkan eksistensinya. Apalagi mengingat
(menurut beberapa pengamat) tahun 2013-2014 adalah tahun politik. Dibanyak
provinsi, terdapat keluarga gubernur yang memiliki garis keturunan secara
horizontal maupun vertical memiliki saudara bupati, anggota DPRD, dan DPR RI.
Dinasti politik di beberapa
daerah di Indonesia lebih mudah diidentifikasi dengan melihat latar belakang
keluarga dari bupati/walikota, anggota DPR, dan DPRD. Tapi, dinasti politik
yang jarang menjadi perhatian publik adalah hubungan keluarga dari para pegawai
pemerintahan dengan kepala daerah.
Politik kekeluargaan melahirkan
beberapa efek negative bagi tumbuh kembangnya demokrasi. Diantaranya elit
politik hanya diduduki oleh kalangan tertentu saja yang berasal dari keluarganya,
sehingga tertutup jalan bagi masyarakat luas dalam terlibat dalam panggung
politik papan atas.
Kedua, menguatnya dinasti
dan dominasi keluarga dalam pemerintahan juga akan berimbas pada efektifitas
kinerja pemerintahan. Disebabkan karena terjadi negosiasi yang tidak sesuai
dengan sistem pemerintahan yang berlaku. Tawar-menawar proyek menjadi hal yang
wajar dalam tender proyek pemerintahan.
Ketiga, dinasti politik
yang semakin menguat menyebabkan pula terjadinya sistem perekrutan tertutup
baik dalam hal penerimaan pegawai maupun penentuan calon legislatif dan kepala
daerah melalui partai politik. Yang terjadi adalah perekrutan dinilai melalui
kedekatan bukan dengan kualitas. Hal ini berimbas pada pelayanan pemerintahan yang
tidak melayani, tapi dilayani.
Keempat, terjadinya
privatisasi sumberdaya ekonomi untuk kepentingan keluarga. Padahal, arena
politik merupakan arena terbuka bagi publik. Tidak terkecuali dalam mengelola
sumber-sumberdaya alam yang mestinya dikelola untuk kepentingan publik. Dengan
begitu, sumberdaya alam akan dikuasai oleh segelintir orang saja yang memiliki hubungan
dekat dengan kekuasaan.
Kita mestinya belajar dari
pemerintahan orde baru yang sedikit banyak telah memberikan pelajaran berharga
mengenai dinasti politik dan politik
golongan yang diterapkan soeharto. Dinasti politik pada orde baru adalah bukti
suburnya korupsi, kolusi dan nepotisme jika dinasti politik menguat.
Pernikahan Politik
Salah satu upaya membangun
dinasti politik adalah dengan mengikat hubungan keluarga melalui pernikahan/perkawinan.
Pernikahan Putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhi Baskoro dengan putri
Hatta Rajasa, Siti Ruby Aliya Rajasa, menurut beberapa pengamat merupakan pernikahan
politik untuk membangun koalisi dua partai biru yakni Demokrat dan Partai
Amanat Nasional.
Dalam bahasa Inggris,
perkawinan yang dilakukan untuk mencapai tujuan strategis tertentu di luar alas
an cinta disebut marriage of convenience
atau marriage of state. Dalam
mitologi Yunani, Helen dari Troy yang ‘dipaksa’ ayahnya, raja Sparta Tyndareus,
agar menikah dengan Menelaus (saudara Raja Agamemnon) adalah contoh “pernikahan
politik”.
Dalam sejarah nusantara,
rencana pernikahan Hayam Wuruk dengan putri Raja Galuh, Dyah Pitaloka, adalah
contoh lain “perkawinan politik”, meski akhirnya gagal karena perang Bubat.
Apakah pernikahan anak
pejabat di beberapa daerah merupakan pernikahan politik? Kita tak bisa mengadili
motif seseorang menikah, apalagi masuk urusan yang kategori privat. Tapi dalam
diskusi politik ,pernikahan politik bisa menjadi diskursus untuk bisa menilai
realitas politik.
Perkawinan politik antara
dua tokoh politik nasional merupakan bagian dari koalisi non-partai yang
dibangun, atau untuk semakin menguatkan dinasti politik dalam mendominasi kursi
kekuasaan. Perkawinan politik kini menjadi trend dalam membangun kekuatan
politik bagi para pejabat di daerah. misalnya, beberapa kepala daerah
menikahkan anaknya dengan anak pejabat di daerah lain.
Rencana pernikahan antara dua
anak pejabat di Sulsel belum lama ini ramai diperbincangkan. Yakni pernikahan antara
putra Gubernur Sulawesi Selatan, Kemal Redindo dengan putri Kepala Dinas
Pertanian, Rizka L Halide. Pada saat yang bersamaan, juga menjadi perbincangan
rencana pernikahan antara dua anak pejabat yang juga memiliki jabatan penting
di Sulawesi selatan yakni putri Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Qanisah
Amaliah dengan putra Bupati Barru, Andi Mirza Riogi.
Perkawinan dua anak pejabat
bisa diartikan sebagai bertemunya dua kekuatan politik besar untuk mendulang
kekuatan yang lebih besar dalam arena politik seperti pemilihan kepala daerah
dan legislatif.
Pernikahan dua anak pejabat
bisa jadi merupakan perkawinan yang di dasarkan atas kepentingan politik.
Sehingga arena politik terbuka dapat dibawa ke arena yang lebih kecil yakni
keluarga. Maraknya perkawinan politik di beberapa daerah semakin mempertegas
dinasti politik semakin menguat di negeri ini.
Bergabungnya
dua kekuatan politik melalui hubungan kekeluargaan yang terjalin melalui
perkawinan, mengakibatkan sirkulasi elit politik hanya di kuasai oleh kelompok
tertentu saja. Jika hal ini yang terjadi, maka demokrasi sebagai jalan untuk
mensejahteraan seluruh rakyat, hanya mensejahterakan sebagian masyarakat saja
yang dibangun melalui dinasti politik.

No comments:
Post a Comment