(pemenang lomba essay tingkat Universitas
Hasanuddin, 2010)
“GUNUNG MERAPI itu layaknya manusia yang
mempunyai nyawa. Kalau erupsi, itu artinya ia sedang buang kotoran. Itu adalah
tahap yang mesti dilalui dan warga menghormati dan memaklumi”. Itulah pandangan
Mbah Maridjan yang dikutip oleh (Kompas,
30/10).
![]() |
| letusan gunung merapi |
Pandangan sang juru kunci Merapi, Mbah
Maridjan, memiliki makna filosofis yang tak mungkin dijangkau oleh sains modern.
Nalar dan intuisinya bekerja melihat hubungan manusia dan alam (kosmologi). Berbagai
pernyataannya tentang legenda Merapi selaras dengan penjelasan sains. Ia adalah
pemimpin lokal yang sangat dihormati. Karena tanggungjawab yang diberikan oleh kesultanan Yogyakarta
tak pernah ia tinggalkan, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat sekitar Merapi
pun tak pernah ia sepelekan. Hingga akhirnya, ia mesti mengorbankan hidupnya
demi kepercayaan yang telah diberikan kepadanya untuk menjaga Merapi.
Setelah bertahun-tahun tinggal dan
beraktivitas di lereng gunung Merapi, Maridjan dan masyarakatnya memiliki cara
tersendiri berkomunikasi dengan Merapi. Merapi tidak lagi dilihat sebagai
sesuatu yang ada di luar diri masyarakat. Akan tetapi sudah menjadi satu
kesatuan yang tak terpisahkan antara masyarakat dan Merapi. Hidup berdampingan dan
selaras dengan Merapi, melahirkan banyak cerita, legenda, mitos dan kepercayaan mistis. Bahkan dari generasi
kegenerasi tetap menjadi pegangan masyarakat. Kepercayaan tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk perilaku,
tindakan dan ritual-ritual.
Salah satu legenda yang popular adalah tentang Nyai Gandhung Melati yang dipercaya sebagai penjaga kehijauan Merapi. Merusak alam Merapi berarti berurusan dengan kemurkaannya. Dari kepercayaan tentang legenda ini, masyarakat yang berada di lereng gunung Merapi tepatnya di Dusun Turgo, Kabupaten Sleman, menerapkan aturan tentang barang siapa yang menebang satu pohon harus segera menanam pohon baru untuk menggantikannya.
Salah satu legenda yang popular adalah tentang Nyai Gandhung Melati yang dipercaya sebagai penjaga kehijauan Merapi. Merusak alam Merapi berarti berurusan dengan kemurkaannya. Dari kepercayaan tentang legenda ini, masyarakat yang berada di lereng gunung Merapi tepatnya di Dusun Turgo, Kabupaten Sleman, menerapkan aturan tentang barang siapa yang menebang satu pohon harus segera menanam pohon baru untuk menggantikannya.
Sikap arif masyarakat terhadap alam, menjadikan
alam sekitar gunung Merapi menjadi lestari dan terjaga keseimbangan ekologinya.
Walaupun menggantungkan hidupnya pada Merapi, masyarakat tidak sampai
memanfaatkannya secara berlebihan. Oleh karenanya, kearifan lokal memberikan
manfaat bagi masyarakat. Tidak heran jika masyarakat selalu dan tetap menjaga
kelestarian alam Merapi. Hingga pemerintah menetapkan status waspada terhadap Merapi,
sebagian masyarakat enggan untuk mengungsi dan meninggalkan Merapi.
Merapi juga tidak sekedar memberikan ancaman
bagi masyarakat sekitar. Dibalik aktivitas erupsi Merapi yang mengancam nyawa
penduduk, Merapi memberikan
kesejahteraan dari kesuburan alam sekitar. Yang dirasakan bertahun-tahun.
Merapi menyiapkan berkah tersendiri bagi masyarakat. Sehingga pada saat erupsi,
masyarakat menilainya sebagai sebuah proses yang memang mesti dilalui oleh Merapi.
![]() |
| Mbah Maridjan |
Merapi pun punya cara tersendiri “berkomunikasi” dengan masyarakat sekitar
sebelum terjadi erupsi. Jauh hari sebelum peradaban mengenal teknologi, masyarakat
telah banyak belajar dari gejala-gejala alam. Ketika kawanan burung menuruni
lereng, selanjutnya diikuti monyet, itu menjadi pertanda Merapi akan meletus. Tanda-tanda
alam tersebut memberikan waktu kepada masyarakat untuk waspada dan menyelematkan
diri sementara waktu. Peristiwa meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta, bukti bahwa
manusia dan alam tak luput dari komunikasi dan interaksi yang terpadu. Sama
halnya, jika alam dieksploitasi secara besar-besaran, akan menimbulkan banjir
dan longsor.
Disekitar gunung Merapi, adapula kepercayaan
tentang beberapa wilayah yang tidak boleh didekati oleh penduduk karena
merupakan pusat makhluk gaib. Tempat itu kemudian dijaga dan tidak disentuh
oleh masyarakat sekitar. Akibat keangkeran tempat tersebut, dalam konteks
kearifan lokal, membuat daerah itu terjaga
kelestarian flora dan fauna serta keasrian Merapi.
Erupsi pun tak luput dari legenda tentang Kiai
Petruk. Awan panas yang membentuk gulungan-gulungan dipercaya oleh masyarakat
sebagai tanda munculnya Kiai Petruk sebagai salah satu penunggu Merapi. Kehadirannya
dimaknai oleh masyarakat sebagai tanda agar penduduk segera menyingkir sebelum
Merapi meletus. Cerita tentang Kiai Petruk selaras dengan penjelasan sains
modern. Bahwa kemunculan awan panas yang banyak itu merupakan bagian dari pembentukan
kubah lava baru pasca munculnya titik api diam. Titik api menandakan magma
sudah sampai di puncak dan menimbulkan semburan material vulkanik, yang dapat
membahayakan nyawa masyarakat sekitar. Antara kearifan lokal dan sains modern berjalan
berdampingan. Memberikan pesan yang sama yaitu menghimbau masyarakat sekitar Merapi
untuk mengungsi demi keselamatan mereka.
Kematian sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan,
mungkin akan menjadi legenda bagi beberapa generasi mendatang. Cerita tentang
sosok pemimpin lokal yang memiliki keteguhan keyakinan tentang kepercayaan yang
diyakini. Serta pemimpin yang menjalankan tanggungjawab yang diberikan oleh
kesultanan Yogyakarta hingga akhir hayatnya.
![]() |
| asap merapi menyerupai manusia |
Itulah Merapi, menyimpan sejuta misteri.
Misteri yang akan terus ada disetiap generasi. Legendanya memberi bahan belajar
bagi ilmu pengetahuan yang lebih mengutamakan pendekatan empiris-rasional. Dan
menolak segala sesuatu yang berbau mistis. Drama Merapi mengajak kita beralih
dari pendekatan tunggal sains, menuju pendekatan yang menggabungkan antara, perlunya
bertemu kearifan lokal dan pengamatan analisis-rasional serta tradisional dan
modernitas.



No comments:
Post a Comment