Monday, April 8, 2013

MERAPI YANG MELEGENDA



(pemenang lomba essay tingkat Universitas Hasanuddin, 2010)

“GUNUNG MERAPI itu layaknya manusia yang mempunyai nyawa. Kalau erupsi, itu artinya ia sedang buang kotoran. Itu adalah tahap yang mesti dilalui dan warga menghormati dan memaklumi”. Itulah pandangan Mbah Maridjan yang dikutip oleh (Kompas, 30/10).

letusan gunung merapi 
Pandangan sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, memiliki makna filosofis yang tak mungkin dijangkau oleh sains modern. Nalar dan intuisinya bekerja melihat hubungan manusia dan alam (kosmologi). Berbagai pernyataannya tentang legenda Merapi selaras dengan penjelasan sains. Ia adalah pemimpin lokal yang sangat dihormati. Karena  tanggungjawab yang diberikan oleh kesultanan Yogyakarta tak pernah ia tinggalkan, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat sekitar Merapi pun tak pernah ia sepelekan. Hingga akhirnya, ia mesti mengorbankan hidupnya demi kepercayaan yang telah diberikan kepadanya untuk menjaga Merapi.

Setelah bertahun-tahun tinggal dan beraktivitas di lereng gunung Merapi, Maridjan dan masyarakatnya memiliki cara tersendiri berkomunikasi dengan Merapi. Merapi tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang ada di luar diri masyarakat. Akan tetapi sudah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan antara masyarakat dan Merapi. Hidup berdampingan dan selaras dengan Merapi, melahirkan banyak cerita, legenda, mitos dan kepercayaan mistis. Bahkan dari generasi kegenerasi tetap menjadi pegangan masyarakat. Kepercayaan tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk perilaku, tindakan dan ritual-ritual.

Salah satu legenda yang popular adalah tentang Nyai Gandhung Melati yang dipercaya sebagai penjaga kehijauan Merapi. Merusak alam Merapi berarti berurusan dengan kemurkaannya. Dari kepercayaan tentang legenda ini, masyarakat yang berada di lereng gunung Merapi tepatnya di Dusun Turgo,  Kabupaten Sleman, menerapkan aturan tentang  barang siapa yang menebang satu pohon harus segera  menanam pohon baru untuk menggantikannya.

Sikap arif masyarakat terhadap alam, menjadikan alam sekitar gunung Merapi menjadi lestari dan terjaga keseimbangan ekologinya. Walaupun menggantungkan hidupnya pada Merapi, masyarakat tidak sampai memanfaatkannya secara berlebihan. Oleh karenanya, kearifan lokal memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak heran jika masyarakat selalu dan tetap menjaga kelestarian alam Merapi. Hingga pemerintah menetapkan status waspada terhadap Merapi, sebagian masyarakat enggan untuk mengungsi dan meninggalkan Merapi.

Merapi juga tidak sekedar memberikan ancaman bagi masyarakat sekitar. Dibalik aktivitas erupsi Merapi yang mengancam nyawa penduduk, Merapi  memberikan kesejahteraan dari kesuburan alam sekitar. Yang dirasakan bertahun-tahun. Merapi menyiapkan berkah tersendiri bagi masyarakat. Sehingga pada saat erupsi, masyarakat menilainya sebagai sebuah proses yang memang mesti dilalui oleh Merapi.

Mbah Maridjan
Merapi pun punya cara tersendiri  “berkomunikasi” dengan masyarakat sekitar sebelum terjadi erupsi. Jauh hari sebelum peradaban mengenal teknologi, masyarakat telah banyak belajar dari gejala-gejala alam. Ketika kawanan burung menuruni lereng, selanjutnya diikuti monyet, itu menjadi pertanda Merapi akan meletus. Tanda-tanda alam tersebut memberikan waktu kepada masyarakat untuk waspada dan menyelematkan diri sementara waktu. Peristiwa meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta, bukti bahwa manusia dan alam tak luput dari komunikasi dan interaksi yang terpadu. Sama halnya, jika alam dieksploitasi secara besar-besaran, akan menimbulkan banjir dan longsor.



Disekitar gunung Merapi, adapula kepercayaan tentang beberapa wilayah yang tidak boleh didekati oleh penduduk karena merupakan pusat makhluk gaib. Tempat itu kemudian dijaga dan tidak disentuh oleh masyarakat sekitar. Akibat keangkeran tempat tersebut, dalam konteks kearifan lokal, membuat daerah itu terjaga kelestarian flora dan fauna serta  keasrian Merapi.

Erupsi pun tak luput dari legenda tentang Kiai Petruk. Awan panas yang membentuk gulungan-gulungan dipercaya oleh masyarakat sebagai tanda munculnya Kiai Petruk sebagai salah satu penunggu Merapi. Kehadirannya dimaknai oleh masyarakat sebagai tanda agar penduduk segera menyingkir sebelum Merapi meletus. Cerita tentang Kiai Petruk selaras dengan penjelasan sains modern. Bahwa kemunculan awan panas yang banyak itu merupakan bagian dari pembentukan kubah lava baru pasca munculnya titik api diam. Titik api menandakan magma sudah sampai di puncak dan menimbulkan semburan material vulkanik, yang dapat membahayakan nyawa masyarakat sekitar. Antara kearifan lokal dan sains modern berjalan berdampingan. Memberikan pesan yang sama yaitu menghimbau masyarakat sekitar Merapi untuk mengungsi demi keselamatan mereka.

Kematian sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, mungkin  akan menjadi legenda bagi beberapa generasi mendatang. Cerita tentang sosok pemimpin lokal yang memiliki keteguhan keyakinan tentang kepercayaan yang diyakini. Serta pemimpin yang menjalankan tanggungjawab yang diberikan oleh kesultanan Yogyakarta hingga akhir hayatnya.

asap merapi menyerupai manusia
Hidup berdampingan dengan Merapi dari generasi kegenerasi membuat beberapa legenda tersebut tak pernah pudar walau zaman telah berubah. Cerita tentang para penunggu Merapi bukanlah sesuatu yang dibuat tanpa alasan. Akan tetapi memiliki arti tersendiri bagi masyarakat sekitar. Merapi bukanlah sosok yang “menggetarkan dan menghancurkan”. Bagi mereka, Merapi adalah sumber kehidupan. Sehingga Merapi disikapi secara arif oleh masyarakat setempat dengan berbagai cerita dan legendanya. Yang hingga akhir zaman tidak akan hilang digilas oleh peradaban modern yang lebih mengutamakan rasionalitas.

Itulah Merapi, menyimpan sejuta misteri. Misteri yang akan terus ada disetiap generasi. Legendanya memberi bahan belajar bagi ilmu pengetahuan yang lebih mengutamakan pendekatan empiris-rasional. Dan menolak segala sesuatu yang berbau mistis. Drama Merapi mengajak kita beralih dari pendekatan tunggal sains, menuju pendekatan yang menggabungkan antara, perlunya bertemu kearifan lokal dan pengamatan analisis-rasional serta tradisional dan modernitas.












No comments:

Post a Comment