![]() |
| Seorang Siswa Sedang Mengikuti Ujian Nasional |
PENUNDAAN
UJIAN NASIONAL di 11 provinsi membuat masyarakat kembali terperangah menyoal
sistem pendidikan nasional. Alasan keterlambatan dikarenakan kertas ujian belum
selesai dicetak. Bahkan penundaan ini berlangsung hingga tiga kali, yang target
pelaksanaannya serentak pada 15 April 2013 tertunda hingga 18 April 2013.
Sejak 2005,
Ujian Nasional (UN) menjadi perdebatan panjang apakah perlu atau tidak
menggelar ujian nasional sebagai barometer kelayakan lulus tidaknya siswa. Suara-suara
protes menolak ujian nasional pun hilang bersama angin, dan hingga saat ini
ujian nasional tetap berjalan dengan sekelumit persoalannya di masa lalu hingga
saat ini.
Melalui
ujian nasional keberhasilan lembaga pendidikan diukur dari angka kelulusan
siswanya. Dengan format pendidikan seperti ini, ujian nasional menjadi
satu-satunya penentu kelulusan siswa melalu format pilihan ganda. Melalui model
seperti ini, perjuangan siswa belajar selama bertahun-tahun hanya dinilai dalam
beberapa hari saja.
Dengan
demikian, sistem pendidikan nasional diarahkan pada bagaimana kemampuan siswa
menghapal teks buku. Sudah menjadi rahasia umum, mendekati pelaksanaan ujian
nasional di tingkat SD, SMP dan SMA, seluruh sekolah kemudian berlomba-lomba
menggelar les privat bagi siswanya di luar jam pelajaran sekolah. Akibatnya generasi
muda terpelajar Indonesia hanya diarah untuk menjadi generasi penghapal saja.
Padahal jika
merujuk pada substansi pendidikan, sebaiknya pendidikan diarahkan pada bagaimana
kemampuan bernalar dan berpikir kompleks, rasa ingin tahu, sikap kritis, sikap
kreatif, kejujuran, sikap adil dan kemampuan siswa berkomunikasi. Tidak
diarahkan menjadi penghapal teks-teks buku saja.
Persoalan
lain yang menjadi sorotan bagi ujian nasional adalah terciptanya iklim
kompetisi yang tidak sehat dalam pendidikan untuk mencapai tolak ukur
keberhasilan lembaga pendidikan. Menjelang ujian guru lebih sibuk daripada
siswa dalam menghadapi ujian nasional. Hal ini disebabkan sekolah
berlomba-lomba menjadi sekolah unggulan dengan angka kelulusan tertinggi. Guru
kemudian disibukkan mencari kunci jawaban buat siswanya.
kesenjangan pendidikan antara daerah dan kota pun semakin tajam. Padahal kualitas tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan di desa dan kota sangat kontras. Format soal ujian nasional yang seragam untuk seluruh satuan pendidikan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan pendidikan yang dilakukan pemerintah terhadap sekolah yang berada di pelosok dengan berbagai keterbatasan.
Melalui ujian
nasional berbagai kepentingan juga dapat dimanfaatkan oleh oknum yang ingin
mendapatkan keuntungan dengan jual-beli kunci jawaban. Bocornya soal ujian
terus menjadi pekerjaan rumah dari tahun-ketahun yang belum terselesaikan. Hingga
penggunaan joki dalam ujian nasional. Hal ini semakin mempertegas bahwa
pendidikan yang tak melihat sekat-sekat dalam masyarakat atau kelas-kelas
antara si kaya dan miskin tak mungkin bisa dihilangkan.
Sekelumit
persoalan ujian nasional yang merupakan potret bobroknya sistem pendidikan, perlu
segera mungkin dibenahi melalui perumusan kurikulum baru yang lebih
mengutamakan kemampuan berpikir kompleks, analisis, kreatif dan berbudi pekerti
harus segera dilaksanakan. Hal ini untuk menjawab tantangan Indonesia ke depan
yang semakin banyak mendapatkan tantangan.
Era smartphone
Kemajuan teknologi
sangat mendukung kemajuan pendidikan di beberapa Negara. Amerika Serikat
sebagai negera maju telah mengembangkan sistem pendidikan berbasis teknologi.
Era digital saat ini dalam bentuk smartphone
telah menjadi jendela untuk memahami dunia beserta isinya. Teks book mulai ditinggalkan di negara
adidaya itu.
Jejaring sosial
seperti facebook dan twitter, telah menjadi alat komunikasi penyebaran
informassi paling efektif saat ini. Mesin pencari di dunia maya seperti Google,
Wikipedia, dan Yahoo telah menjadi alat tercanggih yang mengetahui informasi
apapun yang dibutuhkan.
Pemanfaatan
teknologi sebagai pendukung kemajuan pendidikan sudah harus dipikirkan oleh
pemerintah. Di tengah maraknya pelajar menjadikan smartphone sebagai media komunikasi pertemanan, pemerintah tak
boleh ketinggalan dan memanfaatkannya untuk kemajuan pendidikan.
Pendidikan yang manusiawi
Ujian
nasional seharusnya tidak dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa, tapi
dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan siswa dan untuk mengetahui standar
pendidikan daerah. Melalui ujian nasional pemerintah pusat dapat mengevaluasi
kinerja satuan pendidikan di tingkat daerah dan menjadikan ujian nasional
sebagai jalan untuk membenahi fasilitas sekolah di daerah yang belum memadai.
![]() |
| Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional |
Arah
pendidikan yang tak sekedar menjadikan generasi muda Indonesia sebagai generasi
penghapal dan tak mampu bersaing dengan pelajar di dunia ditegaskan oleh Bapak
Pendidikan Indonesia, Suwardi Surjaningrat atau biasa disebut Ki Hajar
Dewantara. Semangat Taman Siswa yang diusung pendiri Taman Siswa ini mesti
menjadi roh pendidikan Indonesia.
Menurut Ki Hajar
pendidikan seharus diarahkan untuk kepentingan bangsa. Proses pendidikan tidak
hanya menjadi proses kuantifikasi saja, tapi merupakan proses memanusiakan
manusia (humanisasi). Kaum terpelajar mesti terlibat memikirkan
persoalan-persoalan kebangsaan yang menjadi tantangan kekinian dan di masa akan
datang.
Sistem
pengajaran pendidikan yang menempatkan siswa sebagai objek pendidikan yang tak
mengetahui apa-apa harus dibuang jauh-jauh. Dalam proses tersebut, tak jarang
siswa mendapatkan tekanan dan paksaan secara psikologis dalam mengerjakan
tugas-tugas sekolah. Termasuk keterpaksaan secara maraton mengikuti les privat
menjelang ujian nasional.
Konsep
pendidikan Paulo Freire, pemikir pendidikan dunia (Pedagogy of Oppressed, 1970), dapat menjadi acuan dalam merumuskan
kurikulum pendidikan nasional yang memiliki semangat pembebasan. Freire menilai
pendidikan seharusnya membebaskan dengan membangun kesadaran kritis siswa untuk
memahami setiap persoalan di lingkungannya (masyarakat), sehingga pendidikan
menjadikan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat. Pendidikan tidak boleh
menjadi menara gading di tengah kesusahan hidup masyarakat.
![]() |
| Paulo Freire, Pemikir Pendidikan Dunia |
Konsep
pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh nasional dan Paulo Freire selaku tokoh pemikir pendidikan dunia, mesti
menjadi inspirasi bagi pemerintah dalam me-rumuskan arah pendidikan nasional.
Pendidikan yang mengutamakan analisis, kreativitas, kepekaan sosial, sikap adil,
budi pekerti, kejujuran, dan berpikir kompleks sehingga generasi muda bangsa
tidak hanya menjadi generasi penghapal di tengah kesemrawutan pendidikan
nasional.



No comments:
Post a Comment