Friday, April 19, 2013

KESEMRAWUTAN UN; WAJAH BURUK PENDIDIKAN NASIONAL

Seorang Siswa Sedang Mengikuti Ujian Nasional


PENUNDAAN UJIAN NASIONAL di 11 provinsi membuat masyarakat kembali terperangah menyoal sistem pendidikan nasional. Alasan keterlambatan dikarenakan kertas ujian belum selesai dicetak. Bahkan penundaan ini berlangsung hingga tiga kali, yang target pelaksanaannya serentak pada 15 April 2013 tertunda hingga 18 April 2013.

Sejak 2005, Ujian Nasional (UN) menjadi perdebatan panjang apakah perlu atau tidak menggelar ujian nasional sebagai barometer kelayakan lulus tidaknya siswa. Suara-suara protes menolak ujian nasional pun hilang bersama angin, dan hingga saat ini ujian nasional tetap berjalan dengan sekelumit persoalannya di masa lalu hingga saat ini.

Melalui ujian nasional keberhasilan lembaga pendidikan diukur dari angka kelulusan siswanya. Dengan format pendidikan seperti ini, ujian nasional menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa melalu format pilihan ganda. Melalui model seperti ini, perjuangan siswa belajar selama bertahun-tahun hanya dinilai dalam beberapa hari saja.

Dengan demikian, sistem pendidikan nasional diarahkan pada bagaimana kemampuan siswa menghapal teks buku. Sudah menjadi rahasia umum, mendekati pelaksanaan ujian nasional di tingkat SD, SMP dan SMA, seluruh sekolah kemudian berlomba-lomba menggelar les privat bagi siswanya di luar jam pelajaran sekolah. Akibatnya generasi muda terpelajar Indonesia hanya diarah untuk menjadi generasi penghapal saja.

Padahal jika merujuk pada substansi pendidikan, sebaiknya pendidikan diarahkan pada bagaimana kemampuan bernalar dan berpikir kompleks, rasa ingin tahu, sikap kritis, sikap kreatif, kejujuran, sikap adil dan kemampuan siswa berkomunikasi. Tidak diarahkan menjadi penghapal teks-teks buku saja.

Persoalan lain yang menjadi sorotan bagi ujian nasional adalah terciptanya iklim kompetisi yang tidak sehat dalam pendidikan untuk mencapai tolak ukur keberhasilan lembaga pendidikan. Menjelang ujian guru lebih sibuk daripada siswa dalam menghadapi ujian nasional. Hal ini disebabkan sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah unggulan dengan angka kelulusan tertinggi. Guru kemudian disibukkan mencari kunci jawaban buat siswanya.

kesenjangan pendidikan antara daerah dan kota pun semakin tajam. Padahal kualitas tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan di desa dan kota sangat kontras. Format soal ujian nasional yang seragam untuk seluruh satuan pendidikan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan pendidikan yang dilakukan pemerintah terhadap sekolah yang berada di pelosok dengan berbagai keterbatasan.

Melalui ujian nasional berbagai kepentingan juga dapat dimanfaatkan oleh oknum yang ingin mendapatkan keuntungan dengan jual-beli kunci jawaban. Bocornya soal ujian terus menjadi pekerjaan rumah dari tahun-ketahun yang belum terselesaikan. Hingga penggunaan joki dalam ujian nasional. Hal ini semakin mempertegas bahwa pendidikan yang tak melihat sekat-sekat dalam masyarakat atau kelas-kelas antara si kaya dan miskin tak mungkin bisa dihilangkan.

Sekelumit persoalan ujian nasional yang merupakan potret bobroknya sistem pendidikan, perlu segera mungkin dibenahi melalui perumusan kurikulum baru yang lebih mengutamakan kemampuan berpikir kompleks, analisis, kreatif dan berbudi pekerti harus segera dilaksanakan. Hal ini untuk menjawab tantangan Indonesia ke depan yang semakin banyak mendapatkan tantangan.

Era smartphone
Kemajuan teknologi sangat mendukung kemajuan pendidikan di beberapa Negara. Amerika Serikat sebagai negera maju telah mengembangkan sistem pendidikan berbasis teknologi. Era digital saat ini dalam bentuk smartphone telah menjadi jendela untuk memahami dunia beserta isinya. Teks book mulai ditinggalkan di negara adidaya itu.

Jejaring sosial seperti facebook dan twitter, telah menjadi alat komunikasi penyebaran informassi paling efektif saat ini. Mesin pencari di dunia maya seperti Google, Wikipedia, dan Yahoo telah menjadi alat tercanggih yang mengetahui informasi apapun yang dibutuhkan.

Pemanfaatan teknologi sebagai pendukung kemajuan pendidikan sudah harus dipikirkan oleh pemerintah. Di tengah maraknya pelajar menjadikan smartphone sebagai media komunikasi pertemanan, pemerintah tak boleh ketinggalan dan memanfaatkannya untuk kemajuan pendidikan.

Pendidikan yang manusiawi
Ujian nasional seharusnya tidak dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa, tapi dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan siswa dan untuk mengetahui standar pendidikan daerah. Melalui ujian nasional pemerintah pusat dapat mengevaluasi kinerja satuan pendidikan di tingkat daerah dan menjadikan ujian nasional sebagai jalan untuk membenahi fasilitas sekolah di daerah yang belum memadai.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional 
Arah pendidikan yang tak sekedar menjadikan generasi muda Indonesia sebagai generasi penghapal dan tak mampu bersaing dengan pelajar di dunia ditegaskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Suwardi Surjaningrat atau biasa disebut Ki Hajar Dewantara. Semangat Taman Siswa yang diusung pendiri Taman Siswa ini mesti menjadi roh pendidikan Indonesia.

Menurut Ki Hajar pendidikan seharus diarahkan untuk kepentingan bangsa. Proses pendidikan tidak hanya menjadi proses kuantifikasi saja, tapi merupakan proses memanusiakan manusia (humanisasi). Kaum terpelajar mesti terlibat memikirkan persoalan-persoalan kebangsaan yang menjadi tantangan kekinian dan di masa akan datang.

Sistem pengajaran pendidikan yang menempatkan siswa sebagai objek pendidikan yang tak mengetahui apa-apa harus dibuang jauh-jauh. Dalam proses tersebut, tak jarang siswa mendapatkan tekanan dan paksaan secara psikologis dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Termasuk keterpaksaan secara maraton mengikuti les privat menjelang ujian nasional.

Konsep pendidikan Paulo Freire, pemikir pendidikan dunia (Pedagogy of Oppressed, 1970), dapat menjadi acuan dalam merumuskan kurikulum pendidikan nasional yang memiliki semangat pembebasan. Freire menilai pendidikan seharusnya membebaskan dengan membangun kesadaran kritis siswa untuk memahami setiap persoalan di lingkungannya (masyarakat), sehingga pendidikan menjadikan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat. Pendidikan tidak boleh menjadi menara gading di tengah kesusahan hidup masyarakat.

Paulo Freire, Pemikir Pendidikan Dunia
Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh nasional dan Paulo Freire selaku tokoh pemikir pendidikan dunia, mesti menjadi inspirasi bagi pemerintah dalam me-rumuskan arah pendidikan nasional. Pendidikan yang mengutamakan analisis, kreativitas, kepekaan sosial, sikap adil, budi pekerti, kejujuran, dan berpikir kompleks sehingga generasi muda bangsa tidak hanya menjadi generasi penghapal di tengah kesemrawutan pendidikan nasional.

No comments:

Post a Comment